ZAKAT SEBAGAI LANGKAH SOSIAL, MENJAWAB PROBLEM KEDAULATAN PANGAN

  • Whatsapp

Sebuah kebergunaan dan kemanfaatan yang sangat besar ketika saling membantu dalam kondisi yang sulit. Seperti halnya ketika ada pendemi seperti hari-hari ini. Dalam menjaga kesehatan dan stabilitas ketahanan tubuh maka diberlakukan beragam kebijakan oleh pemerintah. Dari sosial distancing, physical distancing, PSBB, lock down dan lain sebagainya. Hal ini semata-mata untuk saling menjaga satu sama lain. Jaga jarak dianggap sebagai solusi agar tidak tertular.

Tentu pada akhirnya terjadi kesenjangan di beberapa ruang kehidupan sosial. Tidak hanya dalam konteks agama yang riweh. Ketika dilarang berkerumun di masjid atau musholla, maka banyak sekali menentang, bahkan cenderung abai. Tentu hal baru membutuhkan pembiasaan dan ketersesuaian.

Bacaan Lainnya
Sumber: Google

Apalagi yang menyangkut tradisi ibadah. Seperti halnya bulan ramadhan tahun ini contohnya. Pandemi menjadi alasan terkuat untuk menyesuaikan konteks tradisi ibadah dengan keadaan yang terjadi. Tentu hal ini sangat berdampak. Walaupun pada akhirnya hubungan vertical antara manusia dan tuhan tergantung pada manusianya sendiri.

Dalam ruang ekonomi dan kesejahteraan tentu mengalami perubahan. Baik secara finansial, maupun kesejahteraan tertentu. Waspada, was-was, cemas dan lain sebagainya seperti momok besar yang selalu menghantui. Banyak di antara kita yang benar-benar mengalami kesusahan akibat dampak adanya pandemi.

Dari perjumpaan dengan beberapa masyarakat ketika sholat tarawih, yang menceritakan kolega dan saudaranya yang berada di luar kota dan sedang kesusahan untuk sekedar mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dalam hal ini masalah pangan.

Baca Juga :  Zakat, penunjang kedaulatan ekonomi dan trush social discanting

Namun demikian, ternyata di sekitar kita, di kampung kita, ada juga yang berbalik kondisinya dari sebelum adanya pandemi, sehingga mereka benar-benar kehilangan sumber rejekinya. Memang, Tuhan mengatur rizki bagi setiap makhluknya, dan kita wajib mengimaninya. Tetapi, tidakkah jika ada usaha dari yang terdekat, tetangga misalnya, atau tokoh masyrakat melalu langgar-langgar,dan masjid untuk mencari solusi atas kondisi saat ini. Utamanya bagi masyarakat sekitar kita yang terdampak pandemi, baik dari sisi kesehatan pun ekonominya.

Jika pertahun Negara kita memanen padi sebanyak 627 juta ton padi, lalu ketika diolah menyusut sepertiga dari bobot awalanya. Sedangkan kebutuhan pangan atau beras dalam sehari adalah 300 gram perorang, atau kurang lebih 1 Kg untuk sepuluh orang dalam sekali makan, maka untuk mencukupi kebutuhan masyarakat secara luas maka 300 gr dikali jumlah penduduk dan hasilnya dibagi dengan sekitar 608 juta ton beras selama satu tahun.

Skala Negara terlalu besar, bagaimana jika kita melihat pada skala terkecil, yaitu tingkat RT saja di setiap Desa kita. Semisal dalam satu RT ada 30 kepala keluarga dengan masing-masing KK terdapat 4 anggota keluarga, berarti ada sekitar 120 orang di satu Rt tersebut. langkah cepat yang bisa kita ambil untuk mengatasi keluarga atau siapa saja yang terdampak pandemi dalam budang ekonomi dan kesejahteraan adalah zakat.

Mengapa zakat? Tentu dalam anjuran agama zakat adalah satu hal yang diharuskan bagi setiap manusia. Khususnya bagi muslim. Dari zakat fitrah, zakat harta, zakat hewan ternak, zakat pertanian, dan zakat penghasilan menjadi salah satu cara dari Tuhan agar manusia tidak enggan untuk gotong royong. Dalam sebuah redaksi pesan Nabi dijelaskan bahwa wa akrim jarahu, maka muliakan (bantu sebisa mungkin) tetanggamu. Maka zakat adalah salah satu cara untuk menjaga kedaulatan sosial dan pangan, utamanya di dalam satu lingkup kawasan tertentu.

Baca Juga :  Wanita Sepuh Tukang sapu Masjid

Kembali kepada simulasi jumlah dan kebutuhan pangan di satu RT dalam sehari, maka bagaimana jika kita elabirasikan dengan teknis zakat, dalam hal ini zakat fitrah. Dalam satu RT ada 120 orang yang berkewajiban mengeluarkan zakat fitrah sebesar 2,5-3 Kg. tetapi dari 120 orang atau 30 KK tersebut, ada 8 KK yang mengalami kesenjangan ekonomi, ada yang karena terdampak pandemi, ada juga yang janda tua, dan lain sebagainya. Tentu hal ini akan menjadi bagian dari kewajiban kita sesama manusia, untuk saling tolong menolong.

Dengan kata lain ada sekitar 24 orang atau 8 KK yang benar-benar berhak menerima zakat. Atau dalam istilah populernya delapan golongan. Kurang lebih aka nada 96 orang yang akan membayar zakat dengan jumlah 2,5 Kg. sehingga akan terhitung menjadi 240 Kg beras yang terkumpul, atau sekitar 2,4 kwintal beras. Kebutuhan pangan bagi 10 orang dalam setiap hari adalah 1 Kg beras, atau sekitar 300 g bagi setiap orang. Jika demikian maka akan ada waktu sekitar satu bulan setelah bulan puasa bagi 24 orang atau 8 KK yang harus tercukupi kebutuhan pangannya adalah 7,2 Kg beras dalam sehari, sehingga dalam satu bulan maka diperlukan beras sebanyak 216 Kg.

Baca Juga :  Pasien Positif Korona di RSUP Kariadi Semarang Meninggal Dunia

Dari jumlah zakat yang dibayarkan oleh keluarga selain yang 8 KK ada sekitar 240Kg beras, sedangkan dalam satu RT ada sekitar 8 KK atau sekitar 24 orang yang harus tercukupi kebutuhan pangannya. Sedangkan kebutuhan pangan dari 8 KK tersebut selama 1 bulan adalah 216 Kg, yang jika di bagikan kepada 8 KK maka akan mendapatkan 27 Kg beras Per-KK.

Tentu hal ini akan menyalahi aturan penyaluran zakat secara nominal atau ukuran. Tetapi jika kita berangkat dari asas maslahah dan asas Dhorurat (sangat membutuhkan) maka akan berlaku ketersesuaian. Tentu hal ini belum menjadi final dari sebuah keputusan sah dan tidaknya. Tetapi penekanannya adalah pada kontek asas maslahahnya. Tentu hal ini berangkat dari dasar penerima zakat yang sesuai dengan quran dan sunnah.

Jikapun simulasi di atas disepakati dan dilaksanakan, maka ada akan muncul pertanyaan kembali yaitu, bagaimana dengan kondisi bulan selanjutnya? Apakah akan tetap dengan zakatnya? Jawabannya adalah iya, karena masih ada macam-macam zakat yang lain, seperti zakat penghasilan, harta, pertanian dan peternakan.

Lantas bagaimana jika di satu RT tersebut ternyata ada yang berhak menerima zakat dan ternyata orang non muslim? Maka pertanyaannya adalah apakah pandemi ini hanya berlaku bagi muslim saja?[]

Pos terkait