Zakat, penunjang kedaulatan ekonomi dan trush social discanting

  • Whatsapp
Bandungkita.id

Oleh: Muhammad Husni*

Salah satu ajaran penting yang terdapat dalam islam adalah urgensi zakat kaitanya dengan mengentasan kaum dhua’afa dan mustadzafiin. Sebagai sebuah dinamika keagamaan, zakat merupakan bentuk kesaksian manusia (syahadah al- Insan) ada rukun Islam keempat di hadapan Allah yang muaranya tertuju pada demensi kemanusian.Sebagai penutup nbulan puasa, satu kewajiban lagi yang perlu dijalankan kaum muslim adalah mengeluarkan zakat.

Zakat merupakan salah satu lambang dari kesucian dari manusia seiiring dengan rukun-rukun Islam lainya. Berbeda dengan puasa, zakat diwajibkan kepada mereka yang mampu (memiliki kelebihan) kepada fakir miskkin dan orang yang membutuhkan. Kewajiban ini melambangkan kesaksian individu (muslim)  dan sekaigus sosial sebagai kesempurnaan dari penunaian rukun islam itu.

Tidak dapat dipungkiri bahwa zakat merupakan kewajiban yang simultan. Bahkan kata zakat dalam al-Qur’an selalu berdampingan dengan shalat. Karena itu, shalat dan puasa tidaklah cukup untuk membuktikan kesaksiannya di  hadapan allah, tetapi perlu ada kesaksian lain yang bisa dilihat dan dirasakan bagi sesama manusia.

Sebagai amalan yang mulia, zakat merupakan rangkaian dari panggilan Tuhan pada satu sisi, dan panggilan dari rasa keperdulian dan kasih sayang terhadap sesamanya pada sisi yang lain. Secara etimologis, zakat berasal dari bahasa arab “zakay”, yuzakky”, tazkiyah” yang artinya suci. Sedangkan secara terminologis, zakat adalah mengeluarkan sebagian harta kepada mereka yang telah ditetapkan menurut syari’at.

Secara filosofis, fungsi zekat bagi manusia adalah membersihkan dari kesahan dan kecurangan dalam meraih keinginan selama ini. Ketentuan zakat telah ditentukan di dalam Al-Qur’an secara jelas dan gamblang. Antra muzakky dan mustahiq adalah dua sosok yang unik sebagai sunatullah akan tejadi muka bumi ini. Karena itu,  hubungan simbiosis antara keduanya ibarat satu keping uang perak. Masing-masing sisi memiliki gambar berbeda tetapi niali tetap sama. Perbedaan gambaar merefleksikan bahwa kehidupan tidak selalu sama, dan akan terus menerus menciptakaan keterkaitan antara satu dengan yang lain.

Urgensi zakat diasumsikan sebagai prestasi dan sara untuk meningkatkan keseimbangan (balnce). Jurang antara kaum fakir miskin dan kaum kaya terlihat berlebihan. Kewajiban zakat bukan hanya berniali transenden, melainkan niali transformatif yang ikut menggerahkan sendi-sendi perubahan menuju kesejahtraan dan kemakmuran masyarakat.

Cita-cita baldatun thayyibatu wa rabbun ghafur (QS. Al Saba: 15), akan bisa terwujud dengan baik manakala kesadaran zakat dilaksanakan kuam muslim dengan penuh kesadaran. Sudah bisa dipastikan bahwa, jika zakat dikelolah secara profesional dan taktis maka tentu akan melahirkan sebuah sirku;lasi produktifitas yang sehat, tidak hanya dikuasai oleh segelintir orang. Sistem menolpoli dan oligopoli merupakan salah satu sistem ekonomi yang bertenangan dengan nilai kemanusian universal, di antaranya adalah kurang sadarnya budaya zakat (budaya bersih, perhitungan, persaingan sehat).

Sistem ekonomo kapitalis jelas-jelas tidak sesuia dengan cita-cita ekonomi umat, sebuah ekonomi yang berlandaskan pada prinsip-prinsip kemanusian. Tinkat perekonomian umat masi terjadi kesenjangan yang cukup mencolok. Kesenjangan ini karena sirkulasi perekonomian hanya berputar dikangan orang kaya saja, dan, jenis sirkulasi perekonomian semacam ini sangat dikecal allah yang tertera dalam al-Qur’an (QS, Al- Syura: 07).

Pada dasarnya, kadar nisbah harta benda yang harus dikeluarkan oleh muzakky adalh seperti yang telah disebutkan dalam hadis Nabi saw. Dan begitu pula penerima atau Mustahiq telah disebutkan secara rinci dalam al-Qur’an(al Taubah: 60). Demikian pula makanisme pengelolahannya telah dijelaskan Rasulullah dalam menetapkan para Amil (pengumpul dan distributor) dari harta zakat atau shadaqah dan infak.

Sebagai kelompok umat yang paling baik atau khoiru ummah adalah sebagaimana yang diganbarkan dalam al-Qur’an (Ali Imron: 110) yang artinya, “Engkaulah umat terbaik yang diturunkan ditengan manusia untuk menegakkan kebaikan, mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah. pada ayat ini, menurut Kuntowijoyo terdapat tiga muatan sebagai karakteristik ilmu sosial profektif, yakni kandungan nilai humanisasi, liberasi dan transendensi. Tujuanya supaya diarahkan untuk merekayasa masyarakat menuju cita-cita sosial -etiknya di masa depan.

Lebih jelas Kuntowijoyo menjelaskan humanisasi adalah memenusiakan manusia. Menurutnya, era sekarang ini banyak mengalami proses dehumanisasi karena masyarakat industrial ini menjadikan kita sebagai bagian dari masyarakat absrak tanpa wajah kemanusianya. Apalagi di tengah mesin-mesin politik dan mesin-mesin pasar.

Sementara ilmu teknologi juga berkecenderungan reduksionistik yang melihat manusia secara parsial. Tujuan liberatif adalah liberalisasi bangsa dari kekejaman kemiskinan, keangkuhan teknologi, dan pemerasan kelimpahan. Kita menyatu rasa dengan mereka yang miskin, yang terperangkap dalam kesadaran teknokratis, dan mereka yang tergusur oleh kekuatan ekonomi raksasa. Kita ingin bersama-sama membebaskan diri dari belenggu yang kita bangun sendiri.

Adapun tujuan transendensi adalah menambah dimensi transendental kebudayaan. Kita sudah banyak menyerap arus hedonisme, materialisme, dan budaya dekaden. Kita percaya sesuatu yang harus dilakukan, yaitu membersihkan diri dengan mengingatkan kembali dimensi transendental yang menjadi bagian sah dari fitrah kemanusian.

Urgensi zakat sebenarnya proses menuju pada watak fitrah kemanusian. Sehingga zakat dapat diasumsikan sebagai proses penyucian jiwa manusia dari perbuatan dosa yang pernah dikerjakan itu. Zakat selain bersandar pada muara horozontal. Dua dimensi ini dalam bahasa agama disebut sebagai pemaknaan teologi transformatif. Artinya sesuatu yang asalnya isoteris akhinya menjadi eksoteris.

Zakat merupakan salah satu bagian integral dalam pengembangan ekonomi umat. Unsur terpentinga dalam zakat adalah terbuakany kantong-kantong kekayaan yang cenderung dimonopoli segelintir orang. Sehingga zakat berjutujuan untuk mengurangi rasa rakus dan tamak pada diri seseorang, terjadinya sirkulasi kekanyaan yang seimbang maskipun dalam prakteknya tidak sesuaio dengan cita-cita semula bagi pembedayaan kaum dhua’afa yang selama ini terpinggirkan. Kemudian yang terakhir adalah menciptakan ketentraman, bukan hanya penerima tetapi juga kepada pemberi zakat, shadaqah dan infak.

Sebagai insal kamil sebagaimana yang dicita-citakan dalam al-Qur’an terbentuknya adalah sebuah kesalehan individu menjadi kesalehan sosial, seperti kesadaran shalat harus diikuti denagn kesadaran zakat, antara shalat dan zakat merupakan satu entitas tidak dapat di tawar-tawar lagi. Banyak ayat al-Qur’an yang mewajibkan kapada muslim untik melakukan shalat dan zakat, misalnya terdapat dalam surat (Al-Baqarah: 43). Shalat dan zakat adalah paket yang membentuk produktifitas personal dan sosial. Karena itu, kaum mustadafin (tarzalimi) akan memberontak apabila hak-haknya tidak segera dipenuhi.

Kaum dhua’afa seringkali menjadi obyek bagi kaum agniya’ yang cukup kurang memiliki kesadaran sosial. Jadi zakat sesunggunya menguji kadar keimanan dan rasa solidaritas sosialnya. Manusia sebagai makhluk sosial tentu tidak bisa tidak untuk melepaskan diri dari pergaulan sosial. Maka dalam hal ini, zakat bukan hanya semata-mata tugas panggilan personal melainkan sebagai panggilan sosial kemanusian.

Tingkat kesulehan personal lebih sulit ditengarai daripada kesalehan sosialnya. Salah satu tantangan besar yang belum bisa dijawab adalah mengentaskan kemiskinan itu. Dengan zakat yang kita keluarkan ini sesungguhnya momen penting sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi jumlah kemiskinan yang ada di hadapan kita.

Bukan tidak mungkin melalui zakat ini jumlah kemiskinan bisa terkurangi. Dengan catatan bahwa antara muzakky dan mustahiq bisa memutarkan harta itu secara baik. Bagi mustahiq hasil zakat bukan hanya dipahami sebagai pemberian tanpa ada muatan filosofi yang terkandung di dalamnya. Salah satu di antaranya memberikan modal usaha untuk meningkatkan taraf hidupnya yang cenderung kekurangan. Dengan zakat itulah mustahiq berkawajipan dapat mengelolah secara profisional dan bukan digunakan secara tidak bijak dan bermanfaat.[]

*Dosen Menejemen IAI Al-Qolam Malang, sekaligus Kandidat Guru Besar bidang menejemen pendidikan islam

Pos terkait