Wisata Kota Temanggung

oleh

TEMPAT WISATA

TAMAN REKREASI KARTINI
Bagi mereka yang sedang melakukan perjalanan lewat Kota Temanggung sangat
ideal untuk singgah disebelah timur kota ini.TAMAN REKREASI KARTINI
Suasana cukup menenangkan didukung fasilitas seperti kolam renang rumah
makan pujasera, arena basket, bola volly, dan sepak bola. Kawasan ini menjadi
pusat hiburan masyarakat saat digelar Pekan Syawalan selama 7 hari setiap
perayaan Idhul Fitri dimulai di hari ke dua. Tempat ini juga digunakan sebagai
tempat singgah angkutan travel antar kota.
CURUG SURODIPURO
Dikenal juga dengan CURUG TROCOH Terletak di desa Tawangsari kecamatan
Tretep berjarak 38 km arah barat laut dari kota Temanggung. Kawasan ini berhawa
sejuk dengan panorama pemandangan alam pedesaan. Tempat ini ibarat saksi bisu
kilasan sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro ketika membuat strategi gerilya
melawan Belanda. CURUG SURODIPURO memiliki keistimewaan yaitu ada 5 terjunan
bertingkat, airnya bersih dan segar, tak pernah surut. Disekitarnya terdapat
berbatuan alam untuk duduk santai sambil menikmati indahnya air terjun dengan
ketinggian sangat terjal tersebut.
CANDI PRINGAPUS
Arca-arca berartistik Hindu yang erat kaitanya dengan Dewa Ciwa menandakan
bahwa Candi Pringapus bersifat Hindu Sekte Ciwaistis. Dibangun pada tahun 850
Masehi dan merupakan Replika Mahameru sebagai perlambang tempat tinggal para
dewata. Hal ini terbukti dengan adanya adanya hiasan Antefiq dan Relief
Hapsara-hapsari yang menggambarkan makhluk setengah dewa. CANDI PRINGAPUS
terletak di desa Pringapus Kecamatan Ngadirejo berjarak 22 km arah barat laut
dari kota Temanggung. Pada libur banyak dikunjungi anak sekolah, turis domestik
dan juga mancanegara seperti Amerika, Belanda, dan Belgia.
JUMPRIT
(PENGAMBILAN AIR SUCI WAISAK)
Jumprit merupakan obyek wisata spiritual di lereng gunung Sindoro dengan
panorama alam pegunungan dan bumi perkemahan berhawa sejuk. Tempat ini erat
hubungannya dengan legenda Kyai Nujum Majapahit yang tertulis dalam serat
Chentini. Didekat mata air jumprit terdapat makam Ki Jumprit.
JUMPRIT (PENGAMBILAN AIR SUCI WAISAK)) peziarah melakukan semedi yang
biasanya dilanjutkan dengan mandi kungkum, membuang celana dalam, BH sebagai
perlambang menghilangkan Sial. Air jumprit juga digunakan sebagai Air Berkah
untuk upacara Tri Suci Waisak setiap tahunya. Terletak disebelah barat
kecamatan Ngadirjo, jarak dari kota Temanggung 28 km. Jalan sampai lokasi sudah
diaspal sehingga perjalanan cukup menyenangkan sambil menikmati potensi
Agrowisata. Disediakan wisma untuk menginap dan anda dapat menikmati udara dan
dapat menikmati udara segar serta indahnya pemandangan matahari terbit.
NDAKI GUNUNG SUMBING SINDORO
Mendaki gunung merupakan wisata petualangan menarik. Penuh tantangan pada
saat mendaki bukit-bukit terjal. namun juga penuh dengan keindahan alam
puncakdengan panorama indah saat terbitnya matahari pagi. PENDAKIAN GUNUNG
SUMBING dilakuakn pada malam 21 bulan Ramadhan (malem selikuran). Sedang
PENDAKIAN GUNUNG SINDORO bertepatan dengan malam 1 asyuro dipastikan ribuan
orang utamanya pemuda pecinta alam melakukan pendakian karana kegiatan ini
merupakan tradisi. Sebagian dari mereka bermaksud berziarah ke makam Ki Ageng
Makukuhan di puncak Sumbing, yang diyakini sebagai orang pertama yang singgah
di kedu dan menanam Tembakau.
GOWA LAWA
Di lembah sungai Bodri di tapal batas Kabupaten Temanggung – Kendal
terdapat sebuah bukit terjal yang dibawahnya berlobang menganga dari bebatuan
kapur dengan stalagtit dan stalagmit yang berpotensi sebagai ajang penelitian.
Disana memang banyak kelelawar karena dulunya goa ini jarang dikunjungi kecuali
yang ingin bertapa. Beberapa waktu lalu pengembangan obyek ini dirintis oleh
Mahasiswa KKN dari Akademi Pariwisata Semarang. GOWA LAWA terletak di desa
Lempuyang Kecamatan Candiroto, lokasinya mudah dijangkau, jaraknya sekitar 300
meter dari jalan raya Temanggung – Kendal. Ada tradisi unik masyarakat sebagai
pendukung yakni tradisi ‘Lampet Dhawuhan’. Pada acara itu siapapun yang
menjabat Kepala Desa harus berkumur air sungai kemudian berjalan di pematang
sawah dan menyemburkan kumuran itu ke sawah tempat bertanam padi.
CANDI & PRASASTI GONDOSULI
Candi dan Prasasti Gondosuli di desa Gondosuli Kecamatan Bulu, sekitar 13
km ke arah Barat dari kota Temanggung, merupakan saksi bisu masa kejayaan
Dinasty Syailendra. Dikawasan ini terdapat reruntuhanCANDI GONDOSULI berarsitek
Hindu yang dibangun oleh anak raja Syailendra bernama Rakai Rakarayan Patapan
Pu Palar yang juga adik ipar raja Mataram Rakai Garung.PRASASTI GONDOSULI
ditulis dengan huruf Jawa Kuno sebanyak lima baris dan berisi tentang filsafat
dan ungkapan kemerdekaan serta kejayaan Syailendra.
CURUG LAWE
Panorama alam sekitar Curug Lawe di Desa Muncar Kecamatan Gemawang
Kabupaten Temanggung cukup memikat. Perjalanan menuju lokasi cukup lancar
dengan jarak tempuh sekitar 26 km dari kota Temanggung ke arah Utara. Jatuhnya
air dari tebing curam itu bagaikan benang-benang putih yang dalam bahasa jawa
disebut ‘Lawe’. Jika lagi musimnya, disekitar obyek juga ada tanaman buah alam
yang dikenal dengan nama buah ‘Cendul’ bisa dipetik secara gratis sebagai
pelepas dahaga. Kenda raan bisa diparkir dititipkan di halaman rumah penduduk,
kemu dian berjalan menyu suri jalan setapak menuju lokasi. Bagi yang suka
petualangan maka obyek wisata ini cocok. Didekat grojogan CURUG LAWE juga ada
mata air panas yang bisa dimanfaatkan untuk obat sakit kulit.
MONUMEN BAMBANG SUGENG
Obyek wisata ini bernuasa sejarah perjuangan bangsa Indonesia pada waktu
perang Kemerdekaan. Tempatnya berada di sebelah bukit kecil di sebeleh timur
terminal bus kota Temanggung. Dikomplek monumen peringatan perjuangan Mayjen
(Purn) Bambang Sugeng (alm) ini, MONUMEN BAMBANG SUGENG terdapat batu prasasti
yang ditulis bala tentara Jepang yang ditawan pasukan Bambang Sugeng di
Temanggung. Tulisan dengan huruf Kanji itu berbunyi “Wampo Daiwa
Daigetzu” yang artinya “Seloeroeh Doenia Sekeloearga” juga
dipahatkan pada batu yang sama. Tempat ini juga sering dikunjungi wisatawan
Jepang terutama dari keluarga bekas tentara Jepang yang pernah ditawan merasa
berhutang budi pada Bambang Sugeng karena pada waktu itu diperlakukan dengan
baik.
PIKATAN INDAH
Kawasan Pikatan Indah Temanggung akan diperluas dan dikembangkan sehingga
menjadi obyek wisata yang menarik untuk dinikmati. Pengembangan Pikatan Indah
yang direncanakan pelaksanaannya tahun 2003- 2004 itu akan meliputi perluasan
areal, pembangunan Wisata Olahraga, Panggung Hiburan, Arena Bermain Anak, Kebun
Binatang Mini, Water Boom dan Hutan Wisata. Suasana yang sejuk, tenang dengan
panorama alam yang memikat membuat anda dapat menikmati suasana berekreasi
dengansantai dan nyaman. Kolam renang Pikatan Indah dengan air yang jernih,
bersih dan alami, membuat anda semakin terkesan. TAMAN REKREASI PIKATAN INDAH
juga tersedia warung makan dengan menu khas antara lain ikan bader goreng,
pecel lele, dan gula kacang. Obyek wisata ini terletak + 2 Km disebelah selatan
kota Temanggung. Bisa dicapai dengan angkutan umum, angkutan tradisional dokar,
dengan kondisi jalan aspal yang memadai.
METEORIT
Jatuhnya meteor di ladang penduduk Desa Wonotirto Kecamatan Bulu, tanggal
11 Februari 2001 di barengi suara gemuruh dan ledakan dahsyat, merupakan
peristiwa alam yang langka dan menarik untuk diteliti. Untuk itu Sekolah Tinggi
Sains dan Teknologi AKPRIN Yogyakarta melakukan penelitian dan kemuadian
membangun MONUMEN METEORIT dilokasi jatuhnya benda angkasa tersebut. Kini
Monumen ini menjadi Obyek Wisata yang menarik untuk dikunjungi didukung
sejuknya suasana alam sekitar berlatar belakang pemandangan Gunung Sumbing.
Bagi yang suka menu ketupat tentu sudah
mengenal ” KUPAT TAHU ” Temanggung. Makanan ini pernah diboyong ke
Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta dan nyaris kekurangan persediaan,
karena laris dibeli pengunjung TMII. Warungnya ada di berbagai tempat di
Temanggung , misalnya di Pandean, Mungseng, Jampirejo, enak disantap hangat di
tempat.



Menu dari daging kambing juga dikenal dengan label ” BRONGKOS KIKIL
“. Lezat disantap hangat di Pujasera Kowangan atau di Pasar Menggoro
Kecamatan Tembarak, sekitar 7 km ke arah Selatan dari kota Temanggung .Masakan
ini biasanya berupa daging dari kaki dan bagian kepala kambing dan siap
disuguhkan mulai jam 10.00 WIB, karena itu cocok untuk saat-saat makan siang.


Bakso memang banyak dijumpai dimana-mana . Tetapi yang satu ini benar khas dari
Temanggung . Namanya ” BAKSO ULEG “. Sebab sambalnya langsung diuleg
dari cabai segar ke dalam mangkuknya dan bumbunya juga khas sehingga memiliki
rasa khas Bakso Uleg. Makanan ini juga lebih enak disantap hangat di warungnya
di depan BRI Cabang Temanggung dan kios Kaki Lima Rolikuran. Buka mulai jam
14.00 WIB sampai malam.


Criping Pedas dari Gandokan Kranggann, 4 Km kearah timur dari kota Temanggung
cocok untuk oleh-oleh. CRIPING PEDAS dikemas masih mentah ( belum digoreng )
dalam plastik satu kilogram atau setengah kilogram. Atau bisa juga membeli
kemasan yang sudah digoreng di kios makanan sebelah BRI Unit Kranggan . Rasanya
gurih, enak,agak pedas dan harganya murah.


Selain Criping Pedas juga dikenal enak dan gurih, cocok untuk oleh-oleh , yaitu
CRIPING TALAS. Terbuat dari Talas tanpa campuran bahan pengawet. Diproduksi di
Desa Manding Kecamatan Temanggung , sekitar 2 Km ke arah Barat dari kota
Temanggung.Wisatawan yang ingin membeli langsung ke perajinnya, sewaktu-waktu
bisa datang ke desa Manding. Criping Talas ini bisa dipesan dalam kemasan
mentah maupun matang.

  1. Bentuk dan struktur bangunan masjid (utamanya bagian dalam),
    mengindikasikan pola arsitektur masa pertumbuhan islam di Jawa;
  1. Dua buah patung nandini ( patung sapi betina ) yang sudah terpotong kepalanya,
    terletak di halaman masjid, menunjukan bahwa kawasan itu pada masa silam,
    ada keterkaitannya dengan kultur agama sebelum islam yakni hindu.
  1. Dua buah pohon tanjung dihalaman depan masjid, yang dulu ( mestinya )
    juga ada pohon sawo kecik dan kelor. Hal ini menandakan bahwa penanaman
    dan penempatan pohoon dan beberapa benda dikompleks masjid,
    mempertimbangkan konsep maknawi dalam kebudayaan Jawa.
  1. Sengkalan ( rangkaian kata yang menunjukan angka tahun ) berbunyi :
    Rasa Brahmana Resi Bumi yang tertulis digapura masuk halaman masjid, yang
    apabila dimaknai merupakan rangkaian makna angka tahun 1786. adapun
    menurut hitungan tahun saka atau Masehi masih perlu penelitian lebih
    lanjut. hanya saja, kebiasaan dalam budaya jawa, penulisan sengkalan pada
    umumnya berdasarkan hitungan tahun saka sehingga 1786 saka dikurangi 78 (
    selisih tahun saka dengan masehi ) menjadi 1722 Masehi, masa penjajahan
    belanda. Bentuk gapura berornamen garis gaya bangunan belanda sehingga
    agak mendekati kebenaran bahwa pembangunan gapura tersebut terjadi pada
    masa penjajahan belanda.
  1. Melihat latar belakang sejarah yang demikian menunjukan bahwa
    eksistensi masjid Menggoro sudah ada sejak masa pertumbuhan islam di Jawa
    sehingga dapat dikatakan bahwa Masjid Menggoro Tembarak Kabupaten Temanggung
    termasuk 9 masjid tertua di Jawa.
  • Terkait
    dengan tokoh Nyai Brintik, sebagai penyebar agama Islam di wilayah itu,
    yang sekarang konon makamnya ada 2 (dua) tempat yakni di Jogopati Desa
    MEnggoro dan satunya di Komplek Makam Sewu atau Komplek Makam Sewu atau
    Komplek Makam Panembahan Bodho yang terletak di Kabupaten Bantul di
    Propinsi DIY.
  • Tahun
    1932 yang dipimpin langsung oleh Bupati Temanggung Cokrosoetomo
  • Tahun
    1958 Juga dilakukan Pemugarann
  • Tahun
    1989 dilakukan renovasi, bahkan pada tahun ini pula, adanya “Mimbar
    Khotbah” yang serupa dengan mimbar di keraton Ngayogyakarta, karena
    sudah usang dan rusak maka diganti dengan yang baru.

Upaya-upaya penyelamatan ini merupakan hal yang perlu dilestarikan, agar
keberadaan masjid tersebut sebagai situs, tidak kehilangan unsur-unsur
pendukung histories, yang merupakan ciri khas dan mempunyai keunikan langka.

POTENSI ATRAKSI BUDAYA
Apabila dipotret lebih mendalam baik sisi budaya maupun pariwisata,
keberadaan Masjid Jami’ Menggoro berserta Malam Jemuah Pahingannya, dapat
dikemukanan sebagai berikut :

  • Masjid
    Menggoro adalah bangunan lama, sesuai citra masyarakat. Terkait dengan
    perkembangan Islam pada masa pertumbuhan ditanah Jawa.
  • Keterkaitannya
    dengan budaya Demak Bintoro sangat erat.
  • Jemuah
    Pahingan dan pasar, adalah aktifitas atraktif/kebiasaan menarik.
  • Event
    yang memungkinkan untuk diberdayakan agar menjadi salah satu sumber
    pendapatan desa atau dusun ataupun masyarakat, dengan penanganan secara
    terorganisir dan profesional.
  • Sarana
    menuju potensi wisata budaya ini sangat mudah, ini merupakan kekuatan
    positif untuk pengembangannya lebih lanjut. Tidak berlebihan bila kiranya
    apabila saya berpendapat terhadap eksistensi Masjid Jami’ Menggoro
    Tembarak beserta Malem Jemuah Pahingannya sebagai citra tradisi masyarakat
    : ” Sebagai situs kultural, harus dilestarikan dengan
    mempertimbangkan aspek historisnya dan sebagai salah satu potensi atraksi
    wisata budaya, layak untuk dikembangkan demi peningkatan kesejahteraan
    “.

MALEM JEMUAH PAHINGAN MENGGORO
Malam belum begitu beranjak,, desau angin gunung menerobos rimbun dedaunan,
menerpa tubuh menghadirkan dingin. Kadang, kabut yang menyelimutu kaki gunung,
yang mungkin sebenarnya mampu mengusik keasyikan dalam kekhusukan orang-orang
yang sedang “menekung manengku puja”. Bahkan, hiruk pikuknya
pengunjung yang ditingkah ramainya penjaja makanan, yang juga sedang
berkeinginan memuaskan wisatawan, dengann menu utama “Brongkos Kikil
Tembarak”, ternyata juga tidak mampu mengalihkan perhatian wisatawan yang
sedang menjalankan ‘Prosesi Ritual” di MAsjid Jami’ Desa Menggoro
Kecamatan Tembarak Kabupaten Temanggung. Mujahadah, baik secara perorangan
maupun kelompok, dilakukan oleh wisatawann minaat khusus ini. Berdzikir kepada
Allah SWT, secara khusuk,, penuhh konsentrasi, hanya ditujukan kepada_Nya, Sang
Maha Pencipta, Maha Pemurah, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sikap dan
perilaku demikian, memang sudah seharusnya menjadi pedoman bagi setiap
makhluk_Nya. Termasuk juga wisatawan Malem Jemuah Pahingan, yang mengkaitkan
dengan Nadzar tertentu. Hal ini mengingat bahwa hanya kepada Allah SWT tempat
yang tepat untuk meminta, dan hanya berkat kemurahan_Nya lah, makhluk terutama
manusi mendapatkan anugerah_Nya, karena hanya Sang Khalik yang Maha Pemberi.
Dilihat dari warna dialek kebahasannya, dapat diketahui bahwa
pengunjung/wisatawan Malem Jemuah Pahingan Menggoro Tembarak itu, tidakk hanya
berasal daari sekitar Temanggung saja.
Lewaaat pengamatann Sosiolanguade, dapat diketahui mereka ada yang berasal
daari Wonosobo, Kendal, Magelang, Semarang, Surakarta, Yogyakarta. Bahkan ada
beberapa yang berasal dari Jakarta dan beberapa kota di Jawa Barat serta Jawa
Timur. Dengan demikian, “Popularitas” Event Malem Jemuah Pahingan di
Komplek Masjid Jami’ Desa Menggoro Kecamatan Tembarakk Kabupaten Temanggung,
gemanya membahana di seantero Tana Jawa. PERCIKAN HISTORIES BACKGROUND Nama
ataupun istilah Malem Jemuah Pahingan Menggoro Tembarak adalah suatu kesatuan
daari beberapa pengertian. Malem Jemuah pahing, adalah Kamis Malam menurut
hitungan hari dan legi berdasarkan hitungan pasaran pada penanggalan Jawa.
Sedangkan Menggoro adalah nama wilayah administratip desa di Kecamatan Tembarak
Kabupaten Temanggung (bahkan sebagai ibu kota kecamatan), tempat terjadinya
prosesi tradisi budaya tersebut di lokasi atau komplek Masjid Jami’. Implikasi
daari arti tersebut adalah bahwa pemilihan hari Kamis Malam Jumat secara
cultural sangat erat kaitanya dengan upaya pendekatan diri kepada Allah SWT
lewat doa dan permohonan. Oleh karena itu, prosesi ritual Malem Jemuah Pahingan
Menggoro Tembarak, harus diberi makna “pendekatan diri kepada Sang Maha
Pencipta”, yaitu setiap aktivitas dari permohonan, hanya ditujukan kepada
Allah SWT. Sebagai bahan pertimbangan tinjauan histories, sebenarnya terdapat
dua sumber, yaitu sumber Artefaktual dan Teksrual. Data-data artefaktual dapat
ditunjukan dengan adanya :
Data yang bersifat tekstual yang berupa antara lain seperti : prasati,
babad, catatan harian, kisah perjalanan, surat-surat keputusan dan lainya,
sampai kapan persisnya Masjid Menggoro berdidi, mengalami kesulita sehingga
hanya berdasarkan dugaan, setelah menganalisa keterkaitannya dengan sosio
cultural yang ada. Beberapa pendapat tokoh masyarakat setempat, yang juga
berdasarkan cerita turun menurun atau berupa legenda, namun dapat juga
dijadikan salah satu acuan pemotretan “masa silam” Masjid Menggoro,
diterapkan bahwa keberadaan Masjid Menggoro ada yang menceritakan dalam 2 (dua)
versi :
·  Dihubungkan dengan tokoh Sunan Kalijaga
salah satu anggota wali sanga di masa Keraton Demak Bintoro. Dalam salah satu
perjalanan syiaar Islam di Jawa Tengah sampai di wilayah ini, diduga juga
mendirikan masjid, yang diyakini sekarang sebagai Masjid Jami’ Menggoro.
Sumbang pendapat yang lain dari Bapak Sudjiyanto, juga penduduk Menggoro
yang juga mendapatkan cerita dari para sesepuh, bahwa ” dulu apabila
bedhug Masjid Demak di tabuh maka akann terdengar sampai dengaan Masjid
Menggoro”. Hal ini semakin menguatkan pendapat bahwa keberadaan Masjid
Menggoro Tembarak, erat sekali kaitnya dengan pusat kebijaksanaan perkembangan
agama Islam pada masa pertumbuhannya di tanah Jawa, yaknii Demak Bintoro di
bawah kendalli Sultann Patah (raja pemeluk Islam pertama di Jawa) dan dibawah
pertimbangan para wali.Diterangkan lebih lanjut oleh Bapak Sudjiyanto, yang
mantan Kades Menggoro in, bahwa upaya penyelamatan bangunan dilakukan dengan
renovasi tanpa menghilangkan ciri khas bangunan pernah dilakukan pada :



Baca Juga :  Bus PO Selamet Pati

No More Posts Available.

No more pages to load.