Wanita Sepuh Tukang sapu Masjid

oleh

Setiap perjalanan melahirkan beragam fenomena dan cerita. Apa yang dijumpai menjadi cerita tersendiri. Kadang mengimbuhi gudang pengetahuan kita, kadang membuat mata kita melongo, menyaksikan apa yang kita jumpa.

Tidak jarang yang melihat HAM sebagai representatif atas melekatnya status dan kondisi personal. Yang perlu dijaga pun dipenuhi. Dengan kata lain Hak adalah kebutuhan. Entah bersifat primer ataupun skunder.

Bagaimana dengan wanita yang sudah rentah? Janda lagi. Jangan tanya kaya atau tidak. Dalam hal ini adalah bagaimana proses pemenuhan haknya? Bagaimana jika ia harus berkarya, dengan melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan dan sosial keagamaannya?

Perjalanan hari ini dari Malang menuju Ponorogo, melintasi Blitar Kanigoro. Karena waktu sudah ashar, ahirnya mampir di salah satu masjid di desa Jatinom.

Masjid itu tidak terlalu besar, cukup untuk menampung 300 an jamaah. Kedatangan kami disambut oleh wanita sepuh yang umurnya kira-kira 20 tahun lagi menuju seabad.

Baca Juga :  Menenun kepribadian
Foto: Ahmad Dahri

Beliau bertanya dengan sangat sopan. “Saking pundi niki wau? Bade tindak, nopo saking kesa?” Sambil memberaihkan lantai serambi masjid.

“Niki, bade tindak Ponorogo.” Jawab Pak Sawir singkat.

“Kula, sampun Gangsal Tahun niki ngrumati masjid, nggih lek jumat ngaten berangkat jam 6 enjing, sekalian ngepel, kalian nata-nata, kersane sing sholat mangke seneng, ayem.” Jelas wanita sepuh tersebut. Tanpa ditanya.

“Enggih, mugi-mugi panjenengan sehat selalu.” Jawab Amin salah satu rombongan.

Kemudian wanita tersebut mempersilahkan kami untuk wudlu dan sholat. Sambil menunjukkan tempat wudlu dan tempat mukena beserta sarungnya.

Yang menarik adalah, mengaryakan dan memberi ruang terhadap wanita, sepuh, janda, untuk mengurus masjid. Perihal usia, pastinya sudah melalui berbagai diskusi. Bahwa ketika berbicara hak maka berbeda dengan pernyataan di atas. Seharusnya ia berada di panti jompo atau di rumah, dirawat oleh anak-anaknya. Tidak dibiarkan melakukan kegiatan yang berat di usianya.

Kebanyakan marbot masjid adalah pria. Di mana apapun yang dilakukan untuk kepentingan masjid menjadi tanggung jawab pWho oria. Maka sudah menjadi kewajaran ketika pria memiliki ruang yang berbeda dengan wanita. Dan sayangnya, hal ini ditentang oleh pemahaman emansipatif.

Baca Juga :  Seni Berpikir dan Bersikap Sederhana (Pelajaran Besyukur)

Di Yunani menyisakan sejarah tentang bagaimana memposisikan wanita. Bahwa wanita adalah belenggu menjadi satu tradisi. Bahwa pria memiliki kedudukan yang lebih di atas wanita menjadi satu hal yang dijaga.

Wanita seakan-akan menjadi aib. Padahal dalam kondisi psikologis tertentu wanita sangat dibutuhkan. Hal ini diluruskan oleh Nabi Muhammad melalui QS: Al Ahzab: 35, bahwa pria maupun wanita yang beriman akan mendapatkan pahala dan ampunan. Dalam konteks tafsir, hal ini menjadi tanda bahwa wanita memiliki posisi yang setara dalam konteks keimanan. Pun dalam konteks sosial.

Yang membedakan adalah peran saja. Jika wanita mengandung dan mendidik anak, dengan waktu yang sangat leluasa. Sedangkan pria mendidik saja, tanpa mampu mengandung.

Baca Juga :  Kiat menata kembali

Dalam hal ini jangan ditanya lebih berat mana? Karena pada dasarnya sama-sama memiliki tanggung jawab yang luar biasa besar. Utamanya dalam mendidik generasi penerus. Menjadi contoh, seperti halnya Nabi, ia menjadi uswah hasanah.

Lantas, bagaimana dengan wanita rentah yang menjaga masjid? Ia memiliki tanggung jawab, pun memiliki hak untuk mendapatkan tanggung jawab secara sosial kemasyarakatan.

Karena selagi mampu, ia membantu marbot lain semampunya. Yang perlu digaris bawahi adalah, ia memiliki niat yang tulus, agar orang yang singgah atau masyarakat sekitar yang akan melaksanakan ibadah merasa nyaman dan senang, karena masjid juga selalu bersih, pun mendapat sambutan yang ramah darinya. Sebagai wujud interakai sosial.

Jika saja bukan karena perdebatan maskulin dan feminim, mungkin manusia tidak akan membedakan satu sama lainnya. Dalam hal ini peran dan kedudukannya. Kalau perihal kelamin, secara alami sudah berbeda. Yang terpenting adalah setiap personal manusia memiliki tanggung jawab masing-masing.

No More Posts Available.

No more pages to load.