Wakil Kepala Sekolah Paksa Siswi Cantik SMA Melakukan Oral Seks

  • Whatsapp

MargoyosoUpdate.com – Salah Satu Siswi kelas 3 SMA di salah satu sekolah negeri di Jakarta Timur yang berinisial MA dipaksa melakukan oral seks oleh guru bernisial T (46) hingga empat kali. Kejadian ini berlangsung selama Juli-November 2012.

Seorang anggota Komite Sekolah yang tak mau menyebut namanya, mengatakan bahwa kisah kedekatan T –yang juga Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan–dengan MA berawal saat mereka wisata ke Bali dan Yogyakarta pada Juli 2012. “Saat di bus, T sudah mulai berani pegang-pegang tangan,” kata dia kepada VIVAnews, Jumat 1 Februari 2013.

Bacaan Lainnya
Baca Juga :  Pilkada Pati 2017 Polisi Petakan Daerah Rawan Konflik

Setelah itu, kata dia, hubungan berlanjut. Masih pada Juli, T menghubungi MA mengajak bertemu dengan alasan ada persyaratan sekolah yang harus dipenuhi. Anehnya, pertemuannya bukan di sekolah, melainkan MA dijemput di dekat rumahnya di kawasan Utan Kayu. Itu pun Minggu, bukan hari sekolah. Setelah itu MA dibawa ke kawasan wisata Ancol, Jakarta Utara. “Di situ MA diminta oral,” katanya.

Baca Juga :  5 Kota menikmati fenomena hari tanpa bayangan di Jateng

Pelecehan kedua juga terjadi di Ancol. Modusnya mirip, telepon, lalu menjemput. Nah, ketiga kalinya, korban dibawa ke Sentul, dan keempatnya di rumah T, di kawasan Jatiwarna. “Setiap diajak selalu minta oral,” kata sumber yang mengaku sebagai anggota Aliansi Orangtua Peduli Pendidikan Indonesia (APPI) ini.

Karena FacebookSumber ini mengatakan, kasus ini terbongkar lantaran status Facebook salah satu guru yang menulis ada kebohongan di SMA tersebut. Saat itulah dia dan anggota lain menelusuri, dan benar ada kebusukan kasus ini.

“Ternyata guru ini dapat informasi dari guru Bimbingan Karier, yang jadi tempat curhat MA,” katanya.

Dari penelusurannya, pada November, MA melapor ke guru BK. Dan guru BK ini mempertemukan dengan kepala sekolah. “Tapi kepala sekolah bilang, kasus ini jangan diperpanjang karena MA sudah kelas tiga,” ujar sumber itu.

Baca Juga :  Warga Karaban Demo di duga Oknum Anggota DPRD Terlibat Pembangunan Ruko Diatas Tanah Desa

Lalu atas inisiatif keluarga dan Komite sekolah, MA melaporkan ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Tapi, karena alasan kriminal, KPAI menyarankan melapor ke Polda. “Besoknya, tanggal 9 Februari kami lapor ke Polda,” katanya. “Kami juga didampingi guru BK.”

Atas permintaan Polda, MA dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk visum dan pemeriksaan kejiwaan. Hasilnya, MA dinyatakan tidak berbohong.

Kasus ini menjadi ramai setelah Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengunjungi MA di rumahnya, kemarin.

Pos terkait