Tertipu

oleh

Fokusmuria.co.id_ Beragam argumen dalam aspek kehidupan umumnya adalah menggali dan memperkuat alasan. Bagaimana tidak? Setiap personal pun pikiran dan aktivitasnya memiliki pembenarannya sendiri. Pada akhrinya adalah membuat kondisi atau bersikap saling menghargai dan menghormati perbedaan itu. Di mana perbedaan menjadi satu ragam kunci komunikasi – baik dengan dirinya sendiri atau dengan orang lain.

Imam Ghazali, filusuf sekaligus seorang sufi di abad kesebelas menjelaskan bahwa manusia memiliki hati yang ibarat raja dan pikiran yang ibarat perdana menteri. Sehingga manusia yang hamba sekaligus khalifah-Nya di bumi memiliki peluang untuk menjaga komunikasi yang baik antara hati dan pikiran. Dengan kata lain membangun sikap jujur – baik dengan dirinya sendiri, atau orang lain. Lebih-lebih kepada Tuhan.

Baca Juga :  Menu Portal e learning Untan 2020

Raja dan perdana menteri seharusnya berjalan beriringan, pun anggotanya. Tidak cengkarut dan tumpang tindih. Saling membenarkan dirinya sendiri. Bahkan saling sikut satu sama lain. Aturan yang tercatat atau tidak ibarat sebuah markah jalan, yang dalam keadaaan sepi bisa keluar batas markah, dengan alasan terburu-buru, mumpung tidak ada kendaraan lain, mumpung tidak ada petugas dan lain sebagainya. Lantas bagaimana dengan aturan agama yang terangkum dalam kitab suci? Dengan kata lain harus ada keterkaitan antara hati dan pikiran.

Baca Juga :  Cara Login Siakad Mahasiswa Untan

Di mana perumpamaan Imam Ghazali bukan hanya sebatas quot-quot yang tumpek abrek di berbagai media sosial saat ini. Tetapi perumpamaan itu mengajak kepada siapapun untuk melatih kejujuran yang murni sebagai manusia. Karena hanya akan selalu tertipu oleh berbagai alasan-alasan baik di dalam pikiran atau kecenderungan-kecenderungan, jika tidak ada usaha untuk belajar mengendapkan diri, menapakkan kaki di jalas sunyi, kemudian berdiskusi dengan diri secara intim.

Apakah benar kita bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari? Atau ada misi untuk mempertahankan bahkan menambah pundi-pundi yang menyokong kehormatan kita di depan khalayak. Apakah benar dengan sekolah maka kebutuhan pengetahuan dan intelektual kita akan terpenuhi? Atau hanya malah penuh sesak impian dan kompetisi-kompetisi untuk menjadi yang paling ini dan itu.

Baca Juga :  Materi Pelatihan Barista dan Usaha Warung Kopi

Maka akan banyak alasan untuk membenarkan sikap dan perbuatan kita. tergantung sudut pandang yang melihat dan membacanya. Sehingga permasalahannya bukan pada bagaimana menjadi manusia yang seperti apa, tetapi bagaimana menumbuhkan kejujuran dalam berproses mengenali diri sebagai manusia. Dengan kata lain, kita lebih tahu atas diri kita sendiri. Namun untuk mengetahui diri kita dengan sebaik-baiknya maka kuncinya hanya satu yaitu terus belajar. Karena prinsip belajar tidak ada batasnya, kecuali sudah dalam liang yang berukuran dua kali satu meter persegi.  Semoga kita selalu memiliki keistiqomahan dalam belajar.

No More Posts Available.

No more pages to load.