Semangat gotong royong di masa sosial distancing

oleh

Oleh: Lek Dah

Peradaban baru, pola kehidupan baru, cara berpikir baru, bahkan semua pola kehidupan baru. Perubahan itu terjadi dengan berbagai sebab. Musibah, perang, otoritas agama, perekonomian dan lain sebagainya. Hal ini dibuktikan dengan adanya covid-19. Secara frontal menyerang sistem sosial, tradisi budaya, tradisi berpikir dan pola sosial yang sebelumnya menjadi kebiasaan.

Pandemi yang menyerang seluruh penjuru dunia menyimpan pelajaran penting dalam ketersesuaian dan kedinamisan. Tentunya pola keseimbangan. Jika Negara lain yang berpaham liberilisme capital tentu memiliki daya tahan dalam ruang-ruang capital, tetapi tidak dalam ruang-ruang otoritas. Mengapa? Karena memang pemerintah dibatasi oleh hak asasi manusia, dan ruang privat bukan urusan pemerintah.

Hal ini berbeda dengan Negara yang berpahamkan soliasis kepaitalis, kita tahu bahwa pemerintah benar-benar memiliki daya otoritas dalam mengontrol masyarakat. oleh sebab itu pandemi dapat terminimalisir korbannya karena pemerintah memiliki daya otoritas yang kuat. Walaupun pada akhirnya akan muncul permasalahan dalam bidang ketahanan pangannya. Bagaimana menjamin bahwa masyarakat secara keseluruhan terpenuhi kebutuhannya? Tentu hal ini tidak hanya membutuhkan otoritas kebijakan, melainkan kerjasama antar pemerintah dan masyarakat.

Baca Juga :  Efek Covid 19, Loket Tilangan di Kajari Kudus Sepi

Di satu sisi, Negara kita memiliki paham Nasionalisme, pun religious. Sehingga muncul pancasila sebagai dasar Negara karena kemajemukan masyarakatnya. Lantas bagaimana dengan pandemi yang berdampak pada sistem sosial di Negara kita? Ada dua hal yang tentu akan menjadi dasar dalam menumbuhkan kebali semangat gotong royong dalam menghadapi pandemi.

Pertama, mengukur kedaulatan pangan. Kedaulatan pangan yang dimaksud adalah, ketersediaan kebutuhan pangan yang tidak hanya melihat pada jumlahnya, tetapi penyebaran dan sirkulasinya. Tidak mengacu kepada komoditas pasar. Melainkan mengacu kepada kebutuhan dan keberlangsungan masyarakata dalam menempuk kesejahteraan sosial.

Kedua, seperti halnya teori evolusinya C. Darwin, yaitu siapa yang bisa menyesuaikan diri atau beradaptasi maka ia adalah yang mampu bertahan. Bertahan dalam kondisi pandemi adalah permasalahan saling percaya, saling membantu, saling menghormati dan saling melengkapi.

Permasalahannya adalah akomodasi, modal (nominal), people control, media sosial sebagai media pewarta dan kesadaran akan kedaulatan sosial dan kedaulatan pangan. Justru yang terjadi hari ini adalah kepanikan dan ketakutan. Di satu sisi takut pada wabahnya, di sisi lain takut akan keamaan sosial yang mulai terusik, pun perkonomian dan kebutuhan pangan yang mulai mengalami krisis.

Pelajaran pentingnya adalah simulasi akan kepentingan primer, kebutuhan primer benar-benar dipikir secara matang. Sehingga kondisi hari ini benar-benar membuat kebanyakan orang, bahkan pemerintah sendiri lebih mengutamakan apa yang lebih penting ketimbang yang sekunder. Dengan kata lain, dari beragam aspek dapat disimpulkan bahwa ada sebuah ketimpangan yang perlu diluruskan dan diseimbangkan.

Baca Juga :  Cegah Penyebaran Covid-19 Pati, Polsek Margorejo Bagi-bagi Masker

Dengan kata lain, manusia dituntut untuk belajar agar memilah-milah kebutuhan yang benar-benar penting dan tidak. Sehingga, jika sebelum adanya Covid-19 banyak orang yang bias kemewahan, akhirnya menarik diri dari zona-zona itu demi menjaga stabilitas ekonomi dan kebutuhan pangannya. Tentu hal ini menjadi dampak positif akan adanya covid-19. Baik dalam aspek keagamaan pun aspek budaya sosial.

Baca Juga :  Kegiatan H Imam Suroso Sebelum Meninggal Dunia dan Berstatus PDP Corona

Catatan akhirnya adalah bagaimana upaya dalam menangani covid-19 tidak hanya berlaku pada ruang isolasi diri. Tetapi ruang-ruang kedaulatan pangan, kesadaran bercocok tanam, kesadaran akan adanya lumbung padi di sebuah wilayah, kesadaram gotong royong dalam menjaga stabilitas sosial, dan kesadaran yang lainnya.

Tentu hal ini sangat penting disadari bahwa harus ada kesadaran gotong royong antara pemerintah dan masyrakat. Baik pemerintah pusat, daerah, wilayah, desa dan Rt. Karena perlu disadari bahwa masyarakat dalam konteks kebutuhan seperti bara api daam sekam, yang sewaktu-waktu bisa melahap di sekitarnya.

Oleh karena itu untuk menjaga kedaulatan sosial (keamanan) maka perlu adanya pemerataan dalam penanganan covid-19 ini. Terutama sembari menumbuhkan kesadaran akan kedaulatan pangan, maka perlu pula peningkatan terhadap semangat gotong royong, khususnya antar tetangga ataupun masyarakat desa.[]

Nusantaranews

No More Posts Available.

No more pages to load.