Ruang kendali, puasa dan memuasakan diri

oleh

Oleh: Ahmad Dahri

“Khoilu as-shiyami wa khoilu ghairu shaimatiin, tahta al-ijaaji wa ukhra taliku al-lijama”

Ungkapan inilah yang dikatakan oleh kaum an-Nabghah yang menjadi salah satu terminology arti kata puasa. Sekumpulan kuda dengan kendali, pun sekumpulan kuda dengan tanpa kendali, berada di bawah (kendali) manusia yang memecah (meluaskan pikirannya dan mengendalikan dirinya). Maksud yang terkandung dalam diwan tersebut adalah perilaku menahan diri. Memberi ruang. Baginya (manusia yang meluaskan pikirannya) adalah kesempatan untuk menata kembali lakunya.

Laku kepada Tuhan, alam dan sesama manusia. Puasa menjadi media untuk mendukung lakunya. Puasa menjadi syariat baginya untuk menemukan jati dirinya. Hamba tugasnya mengabdi kepada Tuannya. Pengabdian membutuhkan kesadaran. Mengapa mengabdi kepadanya? Untuk apa? Pertanyaan ini menjadi sangat logis ketika berimplikasi terhadap apa yang diterima semasa hidup. Nafas, penglihatan, kenikmatan ketika makan dan minum, kesehatan dan kesadaran baik dalam benak ataupun batinnya.

Manakala seseorang berujar bahwa puasakan hatimu juga! Maka saat itu juga kendali-kendali mulai kencang menarik hawa nafsunya. Puasa makan dan minum sudah lumrah. Bahkan jika tidak berpuasapun lalu keluar rumah dan mengatakan pada semua orang bahwa saya berpuasa juga tidak aka nada yang tahu, kecuali dirinya dan Tuhannya. Maka benar musuh ataupun kawan yang sebenarnya adalah dirinya sendiri. Mampukah cahaya yang diterima menjadi kendali? Atau justru tertipu oleh silaunya cahaya itu sendiri.

Baca Juga :  Defisit nilai dan makna hidup

Jika banyak di antara kita memandang bahwa hidup di dunia yang butuh dunia, mencari nafkah adalah ibadah, sehingga ringan ketika meninggalkan ibadah yang lain. Tetapi apakah benar demikian? Apakah Tuhan rela diduakan dengan kesenangan sementara yang dianggap sebuah kewajiban? Atau daya tipu dan silapan keduniawian terlalu kuat, sehingga mengalahkan Sumber Cahaya?

Di bulan Ramadhan banyak para dermawan. Baik dan buruk bukan persoalan. Sudah meluangkan waktu untuk bersedekah lebih baik ketimbang tidak sama sekali. Proporsional, orientasi bukan lagi sebuah kepentingan. Melainkan wajah yang ditampilkan tidak menjadi satu tolak ukur ketulusan. Pada akhirnya yang menerima juga bahagia, tak lupa mendoakan. Karena yang perlu kita yakini adalah, Tuhan memberi hidayah pada setiap manusia. Tergantung bagaimana ia menggapainya.

Covid-19, penjarahan, kejahatan di mana-mana, krisis dan lain sebagainya adalah ruang rasa yang timbul tenggelam dalam kehidupan kita. Seperti halnya badan, kadangkala sehat kadang juga butuh istirahat. Maka kendali yang diperlukan adalah kesadaran gotong royong, saling menjaga satu sama lain. Karena pada dasarnya manusia hidup menanggung masalahnya masing-masing. Ujian utama manusia adalah kerinduan. Rindu pada kebahagiaan, rindu pada kesehatan, rindu pada ketenangan dan rindu-rindu yang lain. Tetapi kadang lupa pada pertanyaan mengapa anda mengalami kerinduan?

Baca Juga :  Nrarendra kepincut gundik

Tuhan menugaskan kepada hambanya untuk menengok kembali, mengapa Nabi Musa diutus ketika masa Firaun? Maka jangan bersedih dan gundah gulana, karena sesunggunya telah Aku kirim utusan dari apa yang ia (Firaun) kerjakan. Ketika Firaun membunuh setiap bayi lak-laki maka jawabannya adalah Tuhan mengirimkan utusan melalui seorang bayi laki-laki yang ditemukan oleh istri firaun. Terkadang memang apa yang semakin dibenci, justru semakin mendekat dan erat.

Perlahan tapi pasti setiap manusia menjumpai dirinya dalam kondisi tanpa kendali, pun terkendali. Setiap manusia memiliki ruang-ruang kendali sendiri, tidak jarang kuat dalam tekanan tapi tidak kuat dalam persuasi-persuasi tertentu. Pun sebaliknya.

Puasa bukan hanya menempatkan diri pada posisi bertahan. Atau kuda-kuda yang kuat. Tetapi, puasa adalah ruang isolasi, ruang lockdown, ruang social distancing, dan ruang-ruang pembatasan yang lain. Untuk bertahan, perlu pembiasaan dan kemauan. Sedangkan untuk menumbuhkan kemauan perlu adanya pencarian. Dan, Tuhan telah memberikan kemudahan dalam setiap pencarian-pencarian. Tuhan juga menurunkan bahkan melekatkan hidayah bagi manusia sejak berada di alam kandungan.

Baca Juga :  Wanita Sepuh Tukang sapu Masjid

Oleh karena itu yang perlu dipahami dalam ruang kendali adalah posisi. Manusia sebagai khalifah, pun sebagai hamba. Tidak lain hanya untuk mengabdi. Abdi yang memiliki totalitas dan militansi yang tinggi. Menurut Imam Arrazi, manusia adalah photo copynya Tuhan. Dalam artian manusia tersematkan di dalam dirinya sifat Tuhan. Maka jelas, bahwa manusia perlu melakukan lockdown-lockdown di dalam dirinya. Atas apa saja yang menjadi perjumpaan-perjumpaan dalam kehidupannya.

Karena pada dasarnya, pengendalian diri bukan melulu menahan lapar dan minum, tetapi mengendalikan keinginan-keinginan yang melekat bahkan mendahului kesadaran manusianya.

Begitu juga dengan fenomena yang terjadi dalam kehidupan. Semakin disenangi tentu semakin (terasa) jauh kesenangan itu, sehingga hari-harinya hanya sibuk mencari apa yang disenanginya, pun sebaliknya. Maka puasa adalah kendali, kesadaran adalah kendali, keluasan diri dan membangun cakrawala berpikir adalah kendali. Semakin kuat kendali itu semakin terarah laju kuda itu. Begitu juga kehidupan. Pada akhirnya, kembali kepada diri kita masing-masing, kendali di tangan kita atau kita yang dikendalikan?[]

No More Posts Available.

No more pages to load.