Nrarendra kepincut gundik

  • Whatsapp
Wayang.id

 

Nrarendra sedang pergi ke Wanasari, kabarnya menjemput Srisekar Nalarina. Ia adalah kekasih sekaligus istri tercinta pangeran di kerajaan Brantas itu. Sesampai di Wanasari, Nrarendra memerintahkan pengawalnya untuk istirahat dan mempersilahkan ke pendopo yang kabarnya ia boyong dari negara tetangga, Antarasuma.

Nrarendra disambut gembira oleh ketiga putranya, Jeng Raswuarindra, Nur Kapitaloka, Reksarua Jan Mintarendra. Begitu juga sang istri yang sudah merias wajah dan membalut tubuhnya dengan gaun yang anggun melilit badannya yang indah.

Nrarendra adalah raja yang menyayangi keluarganya. Mensejahterakan rakyatnya. Bahkan tiada cacat sama sekali di mata rakyatnya. Bahkan penguasa negara tetangga iri melihat kemesraan di dalam keluarganya, pun kedigdayaannya. Nrarendra dikatakan sebagai titisan Batara Guru, saking bijaknya.

Tetapi manusia tetaplah manusia. Di balik kebaikannya yang tiada takarannya. Ia juga menyimpan kalut dan semu yang mungkin hanya ia yang tahu. Ia memiliki wanita simpanan, Tan Raka Ruwasayekti namanya. Wanita ini dicukupi hidupnya, dipenuhi kebutuhannya. Tentu batinnya juga.

Wanita yang menjanda itu kadang kalangkabutan, merasa tidak nyaman. Tapi tiada kuasa juga dirinya. Di satu sisi ia perlu mencukupi kebutuhannya dan anak semata wayangnya. Di sisi lain ia merasa tak enak hati kepada istri Nrarendra. Biasa, wanita punya rasa.

Mungkinkan kuasa itu menjadi pembatas gerak manusia yang lain? Yang tertimpa oleh kepentingan nafsunya, kepentingan kelaminnya. Atau dengan begitu ia merasa bahwa ia sudah adigang adiguna. Siapapun itu, hati memiliki ruang kendali, walau kadang sering gonta-ganti.

Perihal kelamin, tidak pandang bulu. Kelamin tak punya mata, tapi kekuasaan, tren hyperealitas, tren bias kedigdayaan menjadi kaki dari kepicikan dan tendensiusitas kelamin. Nah Nrarendra sedang dalam pola memanjakan kelaminnya.

Ketika Srisekar Nalarina menjadi sigaran nyawanya (Garwa) barang pasti ia menjadi penggugah ruang yang membatasi kontak fisiknya dengan di luar Srisekar. Tetapi kuasa, lagi-lagi kuasa menjadi segenggam kekuatan besar untuk menahan dan membatasi ruang gerang sang bunga, apalagi yang menghisap adalah kumbang lapar yang rakus.

Kalau saja Tan Raka Ruwasayekti berani mengambil keputusan besar yaitu melepaskan diri dari Nrarendra, maka ia telah menyelamatkan Nrarendra dan keluarganya. Bukan berarti Raka yang salah, tetapi konteks interaksi kebatinannya adalah Tan Raka Ruwasayekti harus keluar dari zona itu.

Raja, kekuasaan, pangkat hanyalah sekedar posisi. Dalam ruang kelamin ia kalah telak. Dalam ruang batin ia terkoyak-koyak. Dalam ruang keluarga, ia menyayat-nyayat sendiri hati dan matanya. Ada anak, ada istri.

Rasa, karsa dan raksa adalah ruang kendali utama hidup ini. Nrarendra hanya sekelumit cerita kehidupan yang sedang melenggang. Selebihnya adalah ruang rasa kita sendiri. Cermin besar yang ada di dalam hati. Dan, sikap sadar yang perlu dipupuk dan dikembang semerbakkan.[]

Pos terkait