Niteni dan peradaban tradisi kuno

  • Whatsapp

Oleh: Kang Tolib

Saling menolong satu sama lain adalah buah pemikiran bahwa manusia tergantung pada manusia yang lain. Dalam Bagawad Gita versi bahasa jawa, ada penunjukan kasta, di mana hirarki inilah yang sangat berperan dalam pola gotong-royong di dala kehidupan.

Bacaan Lainnya

Adalah kasta Waisya, kasta punika kalebet golonganipun petani, pedagang, lan industriawan. Tugas kewajibanipun ngawontenaken pesedhian barang-barang keperluan sadinten-dintenipun tumrap masyarakat lan negari. Kedhah mumpuni ing bidangipun piyambak-piyambak. Wewatekipun gemi, nastiti, petung.Tujuanipun angsal kebathen, anangin tujuan kebathen menika kalebet sumberipun watek murka. (Gita:42;03)

Jika melihat pada kasta tersebut, maka yang tampak adalah, bahwa petani memiliki tujuan kesejahteraan dan pemenuhan atas kebutuhan sehari-hari, baik bagi masyarakat pun negeri secara meluas. Tentu hal ini akan berkaitan dengan imtitsali atau analogi yang diberikan oleh Tuhan dalam al-Quran.

Baca Juga :  Hati-hati! Beginilah Cara Virus Korona Menyebar dengan Cepat

Bahwa “wa assiruhunna bi al maruf”, yang berarti secara etimologi adalah saling sapa, interaksi, sehingga bermakna menggauli. Jika di situ objeknya perempuan, maka bumi dalam ritus jawa berarti siti atau bumi. Dengan kata lain, menjaga stabilitas kehidupan apa-apa yang ditumbuhkan dari dalam bumi, perlu interaksi atau pergaulan yang arif, bijaksana, sesuai.

Ketepatan dan keseimbangan inilah yang perlu dijaga. Ilmu titen adalah epistimologi yang menjadi nilai di dalam masyarakat jawa. Adanya pageblug, bencana, goro-goro, kepanikan dan lain sebagainya, bisa jadi saking kurang akrabnya pergaulan dengan alam.

Baca Juga :  Update Covid 19 Pati,Bupati Pati Jelaskan Status Jamaah Tabligh Gowa

Doa dan tradisi-tradisi menjadi sangat sakral dalam kehidupan masyarakat. sudah barang tentu hal ini menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas alam. Walau pada akhirnya akan berjumpa dengan penolakan dan kritikan-kritikan. Hal yang tidak bisa dihindari adalah stigma. Apalagi kalau sudah menjadi prototype, pola pikir di masyarakat.

Jika agama menyodorkan berbagai hukum akan segala hal yang ada di dalam kehidupan. Tentu agama juga memiliki perpanjangan tangan. Dalam hal ini nilai. Saling menolong satu sama lain bersifat luas. Akan mengerucut ketika hal ini didasari pada prinsip kepedulian dan kemanusia. Lalu di mana agama? Agama menjadi prinsip nilai kasih sayang Tuhan kepada siapapun saja.

Baca Juga :  Kabar Gembira! 11 Pasien Covid-19 di Jateng Sembuh

Oleh karena itu, mula-mula kita perlu kenal akan tugas kita di bumi ini. Karena akan menjadi boomerang ketika kondisi kehidupan tiba-tiba berubah dari satu kondisi ke kondisi lain. Contoh sederhananya ketika mengalami krisis ekonomi, pun krisis nilai dan lain sebagainya. Tidak sedikit yang cenderung abai dan mementingkan dirinya sendiri. Bukan masalah benar atau salahnya, tetapi konteks kemanusiaannya.

Jika terjadi sebuah paceklik maka hal yang bisa dilakukan dan agama hadir di sana adalah dengan membangun kesadaran untuk saling tolong menolong satu sama lain. Pun menjadikan bahan untuk berinteraksi dengan alam dengan sangat intim. Karena bisa jadi, atau dapat dipastikan bahwa kerusakan dan paceklik yang dialami tidak lain adalah akibat dari manusianya sendiri.[]

Pos terkait