New normal, antara kesadaran dan Tanggung jawab sosial

  • Whatsapp


Oleh: Ahmad Dahri

Sekitar empat bulan ini dunia khususnya Indonesia, banyak yang terpapar Covid-19. Baik dalam segi terpapar virusnya, pun dampak bagi masyarakat yang tidak terpapar virus. Beragam upaya dilakukan baik oleh pemerintah pun masyarakat sendiri. Dari membangun sistim kesehatan, keamanan dan kedaulatan pangan.

Walaupun wabah atau pandemi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan semata, tetapi juga kepanikan dan perekonomian. Tentu memeras otak setiap masyarakat dalam mencari solusi terbaiknya. Tetapi masyrakat masih optimis dengan gerak sosialnya, gotong royong, membangun lumbung dan lain sebagainya.

Bantuan dari pemerintah pun ragam strategi juga sudah dilakukan, bahkan tidak tanggung-tanggung. Cuma, kalau penyaluran tidak merata itu agaknya sudah biasa; wis padha lumrah. Yang terpenting adalah membangun kesadaran untuk saling bantu satu sama lain. Karena secara normative pandemi ini memiliki beragam hikmah.

Hal ini sejalan dengan apa yang tertuang dalam kitab suci, bahwa tidak ada ujian yang diberikan keculai mereka mampu mengatasinya. Dengan kata lain ada optimism yang kuat yang ditularkan oleh kitab suci kepada kita; umat manusia.

Pandemi ini mengajarkan segala bentuk partisipasi antar sesama yang mulai runtuh. Ketidak percayaan satu sama lain yang kian meluber, bahkan saling abai. Tentu hal ini keluar dari suluk kabudayaan umat manusia. Di mana saling gotong royong adalah prinsip kemanusia yang dilakukan bersama-sama sejak dulu.

Tanggung jawab sosialpun kian tumbuh. Jika sebelum pandemi sedikit yang menyadari pentingnya zakat bagi masyarakat yang membutuhkan, tentu hal ini menjadi cambuk sekaligus kail untuk memancing kesadaran itu. Asal tidak lari pada kepentingan tertentu, agaknya tanggung jawab sosial ini akan mengakar dan berlangsung.

Gerakan agama bisa diwarnai dengan gerakan zakat, waqaf dan shodaqah. Tentu harus memalui diskusi dengan para pakar. Setidaknya muncul perpanjangan tangan akan hadirnya agama dalam kehidupan masyarakat. apalagi prinsip yang dibangun dalam keberagamaan adalah memuliakan atau membangun kepedulian kepada sesama; dalam hal ini tetangga.

Pihak pemerintah, dalam hal ini Pak Jokowi sebagai orang nomor satu di Negeri ini mengajak untuk berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke depan.(Kompas.com 26/5/2020). Kita bisa mengartikan sikap ini dengan berbagai perspektif. Di satu sisi roda perekonomian yang mulai melambat, pun masyarakat tidak hanya bisa diam begitu saja di rumah; Khususnya mereka yang tidak memiliki pekerjaan atau pekerjaannya terdampak Covid-19.

Jika kita mencoba mendekat ke desa-desa atau kampung-kampung, mungkin masih aman dalam kontek kebutuhan pangan, di samping masih tersedia pengganti makanan pokok; singkong, ubi-ubian dan sayur mayor di ladang-ladang atau lingkungan rumah. Tetapi hal ini akan berbeda dengan ruang-ruang yang semi perkotaan, pun perkotaannya.

Pandemi adalah hal yang menyangkut nyawa dan roda perekonomian, tetapi bukan berarti hal ini menjadi surutnya semangat masyarakat dalam bergerak, bertanggung jawab atas keluarga, bertanggung jawab atas hidupnya.

Baru-baru ini ada isu penerapan new normal, hal ini menjadi strategi dalam membangun stabilkan perekonomian yang melambat. Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmita mengatakan, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal, dengan prinsip menyesuaikan pola hidup. (Kompas.com 20/05/2020)

Pendek kata, siapa yang kuat ia akan hidup dan yang tidak kuat, maka sebaliknya. Tetapi, tidak elok jika hal ini menjadi pesimisme kehidupan. Karena keyakinan terbesarnya adalah, bahwa masyarakat Indonesia itu tahan pukul. Mereka tak kekurangan akal ketika lahan-lahan subur menjadi perumahan-perumahan.

Ketika lahan ekonomis hanya dimiliki oleh kaum berdasi dan berduit, masyarakat Indonesia justru tegap dan tegas dalam berdikari dan menjalani kehidupan. Mangan ora mangan sing penting kumpul menjadi prinsisp gerakan sosialnya. Kebersamaan menjadi keeratan tersendiri dalam menhadapi masalah seperti pandemi, atau masalah yang dibuat oleh orang dalam.

Karena sejak lampau, masyarakat Indonesia sudah mafhum dengan perihal menyesuaikan pola hidup, bahkan mampu menyesuaikan diri dengan arogansi-arogansi yang muncul dari janji-janji yang tak ditepati. Jadi, pandemi bukan menjadi masalah yang membuat mereka ciut, tetapi justru menjadi penumbuh tanggung jawab sosial yang sempat dinina bobokan oleh lambe-lambe lamis.

New normal atau normalisasi atau tatanan hidup baru agaknya sudah dilakukan oleh masyarakat setiap hari. Ada atau tidak adanya pandemi bukan menjadi alasan bagi masyarakat untuk tidak new normal dalam hidupnya. Begi mereka menyesuaikan diri dengan keadaan sosial adalah ruang budaya yang sudah lumrah disadari sejak dulu.

Kesadaran akan tanggung jawab sosial sudah melekat dalam diri masyarakat. Perihal kondisi saat ini ujaran jawa mengatakan sudah menjadi sego jangan atau makanan tiap hari. Karena tidak hanya oleh corona manusia mati, tetapi kebijakan pun bisa menjadi penyebab akan kematian seseorang. Minimal kematian sumber perekonomian dan kehidupannya.[]

Pos terkait