Seseorang Meninggal di Parkiran, Layanan RSUD Jepara di pertanyakan.

  • Whatsapp
Ilustrasi Jenazah. (Foto: ANTARA FOTO/Jojon)

fokusmuria.co.id, JEPARA – Seorang pasien yang telah berumur lanjut, Lukita (69 tahun), wafat di ambulans di parkiran instalasi genting Rumah Sakit Umum Wilayah (RSUD) Kartini, Jepara, Jawa Tengah.

Anggota DPRD Jepara Nur Hidayat menjelaskan bukan kesempatan ini saja service RSUD Kartini dirasakan.

Bacaan Lainnya

“Persoalan kualitas service di RSUD RA. Kartini, bukan kesempatan ini saja berlangsung, tapi banyak laporan warga yang memandang kualitas servicenya kurang menyenangkan,” kata Nur Hidayat di Jepara, Rabu (17/3) seperti dikutip dari Di antara.

Baca Juga :  Ketua DPRD Jepara Meninggal Dunia, Sempat ke Gresik

Ketua Komisi C itu akui terpukul atas momen itu. Pasien gawat sebaiknya selekasnya mendapatkan service sebab kegawatannya. Bukan justru menanti dua jam di ambulans yang membawanya di parkiran IGD.
Masalah itu, katanya, adalah pekerjaan untuk seluruh pihak yang perlu dituntaskan, terutamanya Pemerintah Kabupaten Jepara, supaya selekasnya ambil kebijaksanaan tehnis supaya insiden sama tidak terulang kembali.

“Kami benar-benar sayangkan. Memang disadari di sini banyak kekurangan, dari mulai infrastuktur, penguatan manajemen rumah sakit, penguatan sdm (SDM) rumah sakit, sampai team medis harus benar-benar dilihat,” katanya.

Menurutnya bagian kesehatan jadi service fundamen mutlak harus dipenuhi dengan Pemkab Jepara serta janganlah sampai service fundamen kesehatan warga jadi yang ke-2 dari service yang lain.

Direktur RSUD Kartini Jepara Dwi Susilowati mengemukakan permintaan maaf atas momen itu. Menurut dia, rumah sakit tidak dengan maksud telantarkan Lukita.
Dwi menjelaskan, waktu pasien hadir dengan dibawa ambulans, IGD telah penuh pasien.

Baca Juga :  Korban Perampokan didongos Jepara, masih pakai mukenah

Serta, lanjut ia, jumlahnya pasien yang tertampung di IGD telah melewati kemampuan tempat tidur sekitar 13 tempat tidur, selanjutnya ditambah 12 tempat tidur.

Meski begitu, jumlahnya pasien yang antre sampai 19 antrean yang perlu menanti di luar.

“Kami tidak kehendaki hal semacam itu kelak, hingga harus mawas diri dan membeda-bedakan pasien yang memang sungguh ’emergency’ yang diterima. Bila tidak masuk kelompok itu, pasti tidak diterima,” katanya.

Bila pasien yang masuk ke IGD dengan referensi, katanya, harus lewat sarana kesehatan pertama sebab umumnya pasien referensi dibarengi petugas serta telah terkoneksi dengan skema penanggulangan genting terintegrasi (SPGDT) hingga tidak ada pasien yang di mobil atau tidak terperiksa sebab sudah semua terkoneksi.

Baca Juga :  Di jepara, 50 Persen Alokasi BOS untuk Gaji Guru Honorer

Sesaat Lukita disebut tanpa ada surat referensi dari sarana kesehatan tingkat pertama.

“Telah saya cek, tidak ada surat referensi serta pasien memang hadir sendiri dengan diantar mobil ambulans desa,” tutur Dwi.
Lukita masyarakat Desa Mambak, Kecamatan Pakisaji, Jepara, Senin (16/3), hadir ke RSUD Kartini dengan dibawa ambulans puskesmas.

Dikutip dari beberapa media, saat datang di IGD, perawat tidak ada yang memberi tempat tidur dorong untuk mengalihkan Lukita dari ambulans sebab telah habis.

Sesudah menanti serta cemas atas keadaan Lukita, keluarga lalu minta petugas mengecek. Selesai mengecek, petugas cuma memberi nomor antrean 19.

Tidak dipanggil, Lukita keburu wafat di ambulans, di halaman parkir rumah sakit itu.

sumber: antaranews.com Berita Jepara hari ini

Pos terkait