Menenun kepribadian

oleh

Fokusmuria.co.id Sisi manusia yang lain adalah kepribadiannya. Tentu tidak menjadi ukuran bagi siapapun. Di samping bermacam-macam kepribadian manusia, juga latar yang memperngaruhinya. Tuhan memberi warning bahwa setiap tertutupnya hati dan pikiran akan menjadi akibat yang membelenggu diri manusia. Kepribadian sedikit banyak terbentuk oleh gerak hati dan pikiran.

Khatamallaha ala qulubihim wa ala sam’ihim wa ala absharihim ghisawah. Mengambil hikmah dari ayat tersebut memberi gambaran unik kepribadian manusia. Tentu hal ini akan menjadi perenungan sendiri bagi saya. Bagaimana seseorang mengenali kepribadiannya, jika tidak menerima gambaran dari orang lain? Pada akhirnya hubungan sesama manusia menjadi akar terbentuknya manusia itu sendiri.

Asas manfaat, maslahah, perdamaian dan lain sebagainya adalah buah dari hubungan sosial manusia. Kepemilikan atas kepribadian tergantung pada bagaimana cara pandangnya. Ada yang mengultuskan karena kealimannya, ada yang acuh karena dianggap berbeda etika, ada juga yang berbaur karena yang dilihat adalah manusianya bukan apa yang melekat padanya. Menemukan kepribadian berarti menemukan cara dialog yang tepat dengan sesama manusia, minimal dengan dirinya sendiri.

Baca Juga :  Kiat menata kembali

Pada umumnya cara pandang manusia terbagi pada aspek normatif. Baik dan buruk. Santun dan ugal. Hangat dan dingin. Dan lain sebagainya. Cara pandang itulah yang selalu menjadi role model dalam kehidupan. Jika hal tersebut adalah bentuk komunikasi yang disepakati, minimal meluangkan satu gambaran bahwa manusia hanya tetap menjadi manusia. Baik adalah efek dari etikanya, pun buruk.

Baca Juga :  ZAKAT SEBAGAI LANGKAH SOSIAL, MENJAWAB PROBLEM KEDAULATAN PANGAN

Maka kepribadaian manusia memerlukan gerak yang berkelanjutan, khususnya dalam mengontrol dan membaca. Maka pantas jika misi Nabi Muhammad SAW adalah limakarimal akhlak. Karena pada dasarnya disadari atau tidak ada fase manusia berlaku baik dan ada fase manusia kehilangan kemanusiaannya. Tetapi kepribadian kan bisa dibentuk? Lembaga pendidikan salah satu ruangnya. Benarkah demikian? Karena pada dasarnya lingkungan sosial hanya menjadi pengurai kepribadian manusia. Lembaga pendidikan memiliki keterbatasan waktu.

Perenungan dan pentadabburan akan menjadi arena yang legang untuk menginisiasi proses belajar menjadi manusia yang memiliki kepribadian. Mengambil hikmah, mengurai ilmu pengetahuan adalah jalan agar sampai pada kesadaran bahwa manusia memiliki kontribusi pada kebaikan dan kebahagiaan bersama. Begitu juga pada tahap mengenali kepribadian, butuh perenungan dan tadabbur yang panjang serta terus menerus.

Baca Juga :  Defisit nilai dan makna hidup

Pernah ingat film Tarzan atau The Jugle Book’s? Film ini mengisahkan seorang anak manusia yang dibesarkan oleh lingkungan yang berbeda dengan dirinya. Di sana kita dapat melihat bahwa kepribadian itu tidak terbentuk dari satu sub kebaikan atau proses kehidupan. Bisa jadi beragam kejadian, beragam kondisi, dan beragam eksplorasi menjadi ruang dalam menemukan dan membentuk kepribadian. Ingat, bahwa Tuhan menciptakan kehidupan itu dengan satu jalan, yaitu; cinta.

Sedangkan cinta memberi kebebasan untuk berbagi tanpa pamrih, karena siapa yang kikir terhadap dirinya sendiri maka Ia jaga kenikmatan dalam hidupnya.[]

 

No More Posts Available.

No more pages to load.