Menejemen Zakat

  • Whatsapp

Oleh: Dr. Muhammad Husni M.Pd*

Faktor lain yang mempengaruhi kemiskinan adalah adalah mental masyarakat yang cenderung malas untuk bekerja. Keadaan tersebut ditopoang oleh sifat materialistik dengan gaya hidup hedonism yang saat ini sudah menjamur di kalangan masyarakat.

Mengatasi kemiskinan sebagai salah satu program lembaga zakat terkait dengan memperdyaan kaum du’afa. Karena zakat ini diperuntukan untuk memberikan kemudahan bagi kehidupan kaum fakir miskin. Namun, masalah pengelolahan zekat saat ini memiliki beberapa problem, walaupun saat ini lembaga pengelaolahan zakat  sudah tersebar di seluruh dunia.

Dari segi kelembagaan, regulasi zakat belum tampak jelas menyebut peran pengawas, regulator , dan peran lainnya secara khusus dalam hal pengelolahan, pengumpulan serta pendistribusian zakat. Dalam undang-undang tersebut tidak jelas kedudukan lembaga yang bertindak selaku pengawas atau mengontrol kegiatan lembaga zakat, selain itu. Kurangngya kordininasi antar lembaga zakat yang yang ada menjadi problem.

Hal itu juga ditambah dengan faktor lain seperti masih rendahnya pemahaman dan kesadaran masyarakat dalam hal penunaian zakat. Karena masih banyak masyarakat yang memehami objek zakat yang brupa hasil pertanian, perkebunan dan hasil tambang. Objek zakat yang berupa jasa-jasa bekerja profesi seperti dokter, pengacara dan profesi lainya yang mendapat penghasilan lebih besar daripada petani tidak menjadi perhatian. Bahkan, masih banyak yang belum mengetahunya.

Problem lain dalam masalah zakat yaitu mengenai kecenderungan masyarakat menyalurkan zakat yang berhungan erat dengan pemahaman agama yang mereka ketahui serta masih banyaknya sistem pengelolaan zakat yang tradisional di kalangan masyarakat. Selain itu, terkait dengan kondisi masyarakat yang sangat membutuhkan bantuan dalam waktu yang cepat dan lemahnya koordinasi dan pendataan.

Kecenderungan masyarakat menyalurkan zakat secara langsung memiliki sisi positif dan negatif. Sisi positif antara lain dapat diterima langsung oleh yang membutuhkannya. Sedangkan sisi negatifnya dapat mengurangi dan mempersulit optimalisasi pendayagunaan zakat. Padahal, pengelolahan zakat yang baik akan mempengaruhi terwujudnya fungsi zakat sebagai sarana pemberdayaa umat. Pengumpulan dan pengelolahan zakat sangat bermanfaat untuk mewujudkan masyarakat sejahtera.

Dengan demikian, zakat yang diberikan dalam jumlah besar tanpa manajemen yang baik tidak akan berdampak positif bagi perubahan sosial kehidupan kaum du’afaI. Hal ini bertentangan dengan fungsi lain agama islam sebagai mutivator bagi pergerakan ssosial budaya menuju kemajuan. Spirit perubahan ke arah yang lebih baik (dinamisme) meruapakan bagian dari perinsip ajaran islam. Islam menyuruh umatnya untuk mencari kehidupan sesuai kemampuan (skill) dan mata pencaharian (kasib) yang dimiliki.

Prinsip pekerjaan yang dikalukan adalah halal (diperbolehkan syariat) Keragaman skill dan pencaharian manusia yang terus berkembang, menjadikan tingginya persaingan hidup di antara manusia di tengah ledakan jumlah penduduk dan himpitan ekonomi yang semakin sulit. Keadaan demikian terkadang membawa manusia pada perubahan kondisi sosial ekonomi yang semakin komplek.

Perubahan yang terjadi pada manusia dapat didukung oleh berbagai faktor baik internal maupun ekternal. Faktor internal berupa keinginan yang timbul dari dalam manusia untuk merubaj hidupnya. Sementara faktor eksternal berupa faktor luar yang ikut berperan dalam membantu dan bekerjasama merubaha keadaan seseorang dari aspek pendidikan, sosial, maupun ekonomi. Faktor tersebut berupa rekayasa sosial (social engineering) yang dilakukan oleh pemerintah, lembaga sisial, maupun masyarakat yang tidak mengikat. Interversi pihak luar dalam aktifitas kehidupan manusia bagi umat islam merupakan suatu bagian dari perintah agama. Masalah tersebut dilakukan lewat sautu lembaga seperti wakaf dan zakat.

Lembaga zakat infaq sadaqah sebagai institusi sosial secara historis sudah dipraktekkan sejak awal islam. Keunggulan sistem zakat kerena suatu sistem yang memeiliki multi fungsi sebagai  sistem keungan (nizim mal), ekonomi (iqtisad), soaial (ijtima’i), moral (khuluq) dan agama (diniy) secara kekaligus. Walaupun demikain, ibadah zakat, infaq, dan sadaqah lebih kental dengan deminsi teologi (ketuhanan) daropada deminsi lainya.

Asas teologi berbijak pada hadis Nabi saw. Riwayat Ibnu Umar yang terdapat dalam kitab Sahih al-Bukhori dan Sahih Muslim. Hadis tersebut menyatakan bahwa zakat merupakan salah satru kewajiban muslim yang akan menjadikan dirinya aman dan terlindung dari kematian. Oleh karena itu, Kholifah Abu Bakar memerangi orang-orang yang menolak untuk menunaikan zakat. Tindakan Abu Bakar memerangi para muzakki yang enggan membanyar zakat sesungguhnya memiliki beberapa implekasi. Pertama, mereka termasuk kategori oarang yang mengingkari kewajiban zakat. Kedua, dapat menganggu stabilitas ekonomi dimana zakat saat ini merupakan instrumen yang penting dalam kebijakan fiskal negara.

Masalah yang sangat penting adalah nilai “ruh dan isi” dari sebuah lembaga zakat sebagai sesuatu yang harus mendapat perhatian semua pihak sehingga memiliki peran yang besar. Zakat sebagai instrumen ekonomi akan terasa hampa tanpa fungsi dan peran lembaga zakat yang mampu memberikan persoalan bagi peningkatan ekonomi. Lembaga zakat yang diharapkan menjadi agent of change bagi kehiduapan ekonomi masyarakat.  Lebih dari itu, lembaga zakat yang menjadi community worker yang handal, sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan soaial.

Oleh karena itu, untuk mengoptimalkan fungsi dan peranya, revitalisasi manajeral lembaga zakat ke arah yang lebih baik sangat diperlukan. Lembaga pengeloalah zakat harus memenuhi standart manajemen mutu, lembaga zakat perlu mendapat perhatian agar tujuan dari keberadaan lembaga itu dapat tercapai.

Standart mutu merupakan sesuatu yang penting bagi sebuah organisasi termasuk lembaga pengelolah zakat walaupun pada mulanya istilah mutu digunakan  dalam perusahaan sebagai upaya meningkatkan kualitas produk agar memberikan kepuasan bagi konsumen. TQM didasarkan pada partisipasi semua anggota organissi dalam meningkatkan proses, produk, jasa, dan budaya dimana mereka bekerja di dalamnya. TQM memberikan keuntungan begi semua anggota organisasi dan masyarajat. Keuntunga tersebut diperoleh berkat kerjasama semua komponen dalam perusahan seta adanya komitmen menghasilka produk yang berkualitas.

Manajemen mutu (TQM) saat ini telah banyak digunakan oleh perusahan,  lembaga pendidika, dan sebagainya. Walaupun ajar permulaan TQM berasal dari model manajemen mutu perusahan dan industri, penggunaanya kini semakin merambah ke berbagai lembaga. Misalnya, lembaga pendidikan dan doperbentunya gugus kendali mutu, rumah sakit melelui pelayanan prima, dan sebagainya.

TQM juga diterapkan oleh lembaga pemerintah maupun swasta  bahkan organisasi atau lembaga nirlaba (non for profit orhanization) dalam hal ini, tentu ada perbedaan antara lenmbaga nirbala dengan perusahaan yang berorientasi pada profit (keuntungan)  dalam hal TQM nya. Termasuk pengelolahan organisasi/ manajemen lembaga keungan syari’ah seperti lembaga pengelolahan zakat. 

Lembaga pengelolahan zakat sebagai lembaga leungan syari’ah harus berperan pada prinsip syari’ah dan pemberian dampak perubahan bagi kesajahteraan masyarakat di dukung oleh lepercayaan yang tinggi dari masyarakat wajib zakat. Dengan kepercayaan tersebut bagaimanakah lembaga pengelolah zakat memberikan pelayanan terbaikk sehingga memberikan kepuasan bagi para muzakko dan mustahik. Pada akhirnya, pemberdayaan dan kekuatan kaum dhua’afa dapat terwujud.[]

*Kandidat guru besar di bidang Menejemen pendidikan Islam IAI Al-Qolam Malang

Pos terkait