Lebaran, esensi jalan pulang

oleh

Oleh: Ahmad Dahri

//Petemoné bapa lan bibi/ babar banyu pan uler umpa/ dadi enthung wetengané / wiyosé bayi kupu / mangka uler bayi upami / enthungé aran bocah / wong dadiné kupu / mangka wong uler upama / enthung tiyang dadi kupu manungsa wis / waskitha isining rat//

-Serat Begandring Mayangretno, Pupuh 1 Dhandanggula, 110

Salah satu filosofi kehidupan adalah proses tidak akan menyelingkuhi hasil. Tolak ukur sebuah hasil tergantung pada bagaimana prosesnya. Hidup dalam budaya masyrakat jawa dikenal dengan urip, nguri-nguri pangurupan. Menangkap Cahaya Cinta, memahaminya, melaksanakannya lalu mengambil pengetahuan dari proses tersebut. seperti halnya menanam, tugas manusia hanya menanam dan menjaga tanamannya. Perkara menumbuhkan dan menguraikan hasilnya adalah urusan CintaNya.

Serat di atas bercerita bagaimana laku manusia. Suluk laku dalam memaknai kehidupan. Memahami kekhalifahan aku sebagai hamba Tuhan. Perjalanan itu diibaratkan dengan proses kupu-kupu yang diawali dengan ulat yang bertapa. Ulat melockdown dirinya selama 15 hari bahkan lebih. Dengan kata lain ulat tidak akan menjadi kupu-kupu yang indah tanpa melewati proses samadi atau bertapa menjadi kepompong.

Siapa yang tidak geli bahkan jijik melihat ulat? Tetapi siapa yang tidak terpesona ketika melihat kupu-kupu yang terbang di antara kebun bunga? Proses kehidupanpun sedemikian rupa. Untuk mencapai waskita perlu pertapaan panjang, perlu lockdown yang panjang di dalam dirinya. Menutup diri dari gemerlap dunia, nafsu dan keinginan-keinginannya. Hal ini umpama puasa adalah puasa dhohir dan bathinnnya. Puasa yang tidak hanya menahan diri dari minum dan makan, tetapi dari segala keinginan yang lebih dulu survive dan nafsunya.

Dari puasa itu kemudian menemui hari raya, lebaran, bada, riyaya, telasan dsb. Tentu berbelut kegembiraan dan kebahagiaan, setelah berpuasa, setelah proses menutup  menahan diri. Lebaran berarti keterbebasan diri, rampung, bali ing saka ajining diri. Lebaran adalah muatan-muatan hal yang dianggap sudah, kesudahan. Bukan berarti setelah itu tidak lebbar lagi. Tentu ada proses-prsose puasa kembali. Tetapi lebaran adalah kembalinya diri kita kepada keramaian dari keheningan diri. Dari puasa yang panjang, yang di dalamnya ada beragam latihan-latihan bertahan, bertapa dan menutup diri. Sehingga ada yang mengatakan bahwa setelah berpuasa di bulan Ramadan, ia akan menuju kepada suluk yang dinamakan tapa ngrame. Bertapa dalam kondisi keramaian.

Ramai yang penuh hiruk pikuk kecenderungan-kecenderungan. Ramai yang penuh dengan beragam keinginan-keinginan. Ramai yang penuh dengan beragam warna-warna nafsu kedirian. Sehingga hal ini dinamakan lebaran. Apa yang dilakukan manusia ketika berpuasa adalah proses pemantapan untuk menjalani kehidupan ke depan. Sehingga akan mencapai masa yang dinamakan wus lebbar. Maka dikatakan dalam serat di atas bahwa ketika ia sudah memahami proses pertapaan sebagai enthung atau kepompong ia akan mencapai kawaskithan ing rat. Akan mencapai suluk laku yang erat cintanya kepada Sang Hyang Tunggal. Kepada Tuhan yang Maha segalanya.

Pendek kata, proses pertapaan atau puasa adalah proses untuk menyadari bahwa aku hanya bergantung kepada Tuhan. Segala yang dilakukan oleh aku tidak lain hanya bergantung kepada Tuhan. Kalau doanya adalah Allahummajal minal aidin wa al faizin. Maka jelas harapannya adalah kembalinya diri bergantung kepada Tuhan. Bahwa kabejjanan itu pemberian Tuhan.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan dari Tuhan bahwa wa ma khalaqtu al jinna wa al insan illa liyabudun. Tidak lain tidak bukan jin dan manusia Kuciptakan hanya untuk menghamba kepada-Ku. Menghamba dalam arti mengabdi setulus hati. Apapun profesi dan kondisinya maka harus bernilai mengabdi kepada Tuhan.

Masyarakat pada umumnya menandai lebaran tidak hanya dengan zakat dan takbiran. Tetapi ada slametan, ambengan, berkahan dsb. Simbolnya adalah dengan membawa nasi lengkap dengan lauknya ke langgar dan masjid-masjid terdekat. Setelah doa bersama lalu mengambil daun pisan yang ada di wadah nasi tadi, kemudian dijadikan lemek atau alas untuk menerima berkahan atau nasi yang sudah didoakan tadi. Bidahkah? Haram? Tentu tidak semudah itu menghukuminya. Di satu sisi hal ini tidak keluar dari ketauhidan kepada Tuhan, di sisi lain pola ini adalah pola berbagi sesama manusia dalam bentuk berkahan.

Maka pelajaran yang sangat penting adalah bahwa kehidupan ini adalah proses berbagi. Proses saling peduli. Karena di sana juga tertuang nilai pengabdian kepada Tuhan melalui ritus interaksi sesama manusia. Bahwa innalillahi wa inna ilaihi rajiun jelas menjadi bentuk nyawiji dengan Tuhan. Dengan cara saling berbagi dan menghormati satu sama lain, dengan pemahaman bahwa setiap makhluk yang diciptakan Tuhan memiliki nilai dan keutamaan yang beragam, tentunya itu menjadi bagian dari perwujudan Tuhan.

Oleh karena itu lebaran adalah substansi, esensi dari sangkan paraning dumadi. Substandi dari jalan pulang. Jalan menuju kepada Yang Tunggal. Menuju kepada Tuhan. Kondisi hari ini dengan adanya pandemi benar-benar menyiratkan makna lebaran dan puasa yang sesungguhnya. Bahwa kehidupan adalah proses untuk waskitha ing rat mengetahui kepada siapa sebenarnya bergantung. Karena jika Tuhan sudah menyabda dengan kunnya maka terjadilah. Di mana lebaran yang berarti kembalinya diri kepada Tuhan, keterbebesan diri dari segala ruang-ruang keinginan dengan proses sebelumnya yang berupa puasa atau pertapaan, ditampakkan dengan kondisi pandemi yang merubah segala sudut pandang hedonism, sudut pandang keakuan, sudut pandang arogansi. Sehingga benar-benar mengembalikan aku kepada sangkan paraning dumadi.

Kupu-kupu adalah lambang keindahan, lambang kebebasan, lambang pancaran Cinta yang  jika dimilik  pahami oleh setiap aku maka hanya penghambaan-penghambaan dan kawaskithan ing rat yang benar-benar substansial. Oleh karenanya, semoga lebbar semuanya, semoga benar-benar terurai segalanya dengan Cinta dan penghambaan yang tulus kepada-Nya.[]

No More Posts Available.

No more pages to load.