Latihan bahagia

  • Whatsapp

Fokusmuria.co.id Bahagia itu perlu latihan. Jika sebelumnya dikatakan bahwa kebahagiaan tergantung pada kecenderungan individunya, maka informasi tambahannya adalah bahagia perlu dibiasakan. Setiap orang memiliki potensi kebahagiaan, langkah awalanya adalah membiasakan diri untuk berpikir positif. Apapun yang terjadi, jika dilihat dari susut pandang yang positif akan melahirkan satu akibat yang positif juga. Tentu bukan seperti teori bahwa minus dikali minus maka hasilnya plus. Hal ini berbeda dengan prinsip matematis. Ibarat membuka jendela setiap pagi, maka lantai rumah akan terhindar dari lembab, sehingga udara yang berada di dalam ruangan akan berganti dengan udara yang baru.

Berpikir positif adalah perintah Tuhan melalui segala aspek tadabbur, salah satu contoh kalimatnya afala yandluru ilal ibili kayfa khuliqat.[1] Apakah mereka tidak melihat bagaimana seekor unta diciptakan? Secara kontekstual, kalimat ini mengajak kepada kita untuk merenungkan setiap kejadian memiliki hikmah dan pelajaran. Agaknya belajar memang tidak ada putusnya, apalagi lembaganya adalah universitas kehidupan.

Bacaan Lainnya
Baca Juga :  Nrarendra kepincut gundik

Kegagalan adalah kemenangan yang tertunda, kata sebagian motivator. Hal ini bisa dibenarkan, pola pikir positifnya adalah dari kegagalan itulah akhirnya ada introspeksi diri, sehingga ada upaya untuk bekerja keras dalam menjalani proses yang maksimal. Kegagalan adalah kebahagiaan yang tertunda, jika mau merenungi mengapa terjadi kegagalan, lalu melakukan penyadaran diri dengan adanya pembenahan.

Kegagalan juga diyakini hanya sebagai perspekstif saja. Suatu hal dikatakan gagal atau sedang dalam kesusahan ketika seseorang hanya berhenti pada kerangka luarnya saja. Ia hanya berhenti pada kulit luar, tanpa menyadari bahwa ada bagian dalam atau bagian lain yang belum digali dan ternyata di sanalah kebahagiaan sebenarnya. Kadang manusia terburu lelah tanpa melihat sampai mana ia melangkah.

Baca Juga :  Ruang kendali, puasa dan memuasakan diri

Tuhan menciptakan alam atas dasar cinta dan memuliakan makhluknya. Ayat yang terang-terangan menyebutkan itu adalah wa karramna bani adam, dan telah aku muliakan keturunan Adam. Kalau bukan karena cinta lantas mengapa Tuhan menciptakan dunia dengan segala isinya yang bermanfaat bagi semua makhluknya? Beribadah? Jika demikian maka bentuk pengabdiannya adalah dengan menjaga apa yang telah Tuhan ciptakan. Mensyukurinya diiringi dengan memohon ampun kepada-Nya.

Likuli syai in maziya,  atau ma khalaqta hadza bathila, bahwa setiap jalan, kondisi atau apapun memiliki kadar kebaikannya. Maka sangat disayangkan ketika melihat sesuatu dari sudut pandang negatif. Jika selalu merasa paling susah, maka secara tidak langsung sudah menutupi kebaikan yang diberikan Tuhan dalam bentuk kehidupan. sedangkan menutupi kebaikan Tuhan bisa dikatakan menghilangkan eksistensiNya.

Tuhan menebar kebaikan dan kebahagiaan di muka bumi ini tanpa batas apapun. Persoalan utamanya adalah cara pandang. Manusia memiliki sudut pandang yang beragam. Tetapi perlu dikatahui bahwa untuk menangkap kenikmatan dari Tuhan yang terpenting adalah sudut pandang positif. Semakin dalam mantadabburi setiap kejadian maka samakin besar peluang menyadari kebaikan yang diberikan oleh-Nya.

Baca Juga :  Seni Berpikir dan Bersikap Sederhana (Pelajaran Besyukur)

Latihan bersyukur agaknya menjadi kunci menuju kesadaran akan kebaikan Tuhan. spertihalnya ikhla, tanpa adanya pembiasaan maka semakin jauh dari keikhlasan. Maka lakukan saja, karena yang terpenting adalah kemauannya. Bersyukur perlu pembiasaan. Salah satu contohnya ketika bangun tidur. Dengan – tanpa disadari kadang kita lupa bersyukur bahwa ternyata kita masih diberi kehidupan.

Kalau batu bisa berlubang dengan tetesan air, maka bagian terluar dari kebahagiaan (bisa dianggap kesusahan atau kegagalan) pun akan terbuka dan percah dengan konsisten dalam berpikir positif dan bersyukur.

Semakin sering bersikap dan berpikir positif maka semakin terbuka rasa untuk selalu bersyukur. Pun pintu menuju kebahagiaan.[]

 

[1]  Qs. Alghasiyah ayat 17

Pos terkait