Jaringan sosial online sebagai suatu classroom Environment

  • Whatsapp

Oleh: Dr. Muhammad Husni MPd.i*

Jaringan social Online, sebagai suatu classroom Environment merupakan bagian penjabaran dari Total Quality Management (TGM). Total Quality Management (TQM) atau manajement mutu Menyeluruh adalah suatu konsep manajement yang telah dikembangkan sejak lima tahun lalu dari dari berbagai praktek manajemnet serta usaha peneingkatan dan pengembangan produktivitas. Di masa lampau, literature manajemant berfokus pada fungsi-fungsi control kelembagaan, termasuk perencanaan, pengorganisasian, perekrutan staf, pemberihan arahan, penugasan struktrulisasi dan penyusunan anggaran. Konsep manajement ini membuka jalan menuju pradigma berfikir baru yang memberi penekanana pada kepuasan pelanggan, inovasi dan meningkatan mutu pelanyanan secara berkesinambungan. Faoktor-fakror penyebab lahirnya” prubahan pradigma” manajernya persaingan, ketidak puasan pelanggan terhadap mutu pelanyanan dan produk, pemotongan anggaran serta krisis ekonomi. Meskipun akar TQM berasal dari model-model perusahan dan industry, namun kini penggunaanya telah menambah struktur manajement baik di lembaga pemerintah maupun lembaga pendidikan.

Di indonesia. TQM pertama kali diperkenalkan pada tahun 1980 – an dan sekarang cukup popular di sector swasta khususnya dengan adanya program ISO 9000. Banyak perusahan terkemuka dan perusahan milik Negara telah mengadopsi TQM sebagai bagian dari strategi mereka untuk kompotitif baik di tingkat nasional maupun internasional. Tetapi TQM kurang begitu dikenal di sector public. Namun kini keadaan sudah berubah, factor-faktor yang mendoron sector swasta untuk beradaptasi dengan konsep ini, juga memiliki dampak terhadap cara pemerintah menyediakan pelayanan.

Indonesia kini berada dalam periode transisi, dari gaya pemerintah otoriter yang sangat sentralistik menuju ke gaya pemerintahan bottom-up yang disentralistik, dimana pemerintah daerah berada dalam proses menerima ortonomi daerah. Masa teansisi ini berlangsung dalam masa krisis ekonomi dan restrukturasi yang memasksa pemerintah untuk mengeksplorasi model-model pengadaan pelayanan alternative. Sebenarnya, UU No. 22 1999 (mencakup kepemerintahan daerah) memiliki potensi untuk mentransformasi cara pemberian pelayanan oleh pemerintah secara dramatis. UU ini bertujuan untuk memperdayakan pemerintah daerah, menguatkan masyarakat local dan meningkatkan kualiatas pelayanan public. Dalam konteks inilah terdapat peluang yang berharga untuk mengenalkan dan melaksanakan TQM.

Dalam pengelolahan pendidikan, TQM telah memainkan peranaan TGM penting dalam merubah pelayanan terhadap pengguna jasa pendidikan, baik pelanggan internal mapun eksternal. Evaluasi terhadap pelaksaan TGM mengedentifikasi peningkatan tingkat kuasan pelanggan dan kualitas pelayanan pada program pendidikan dan pemperdayaan dengan biaya terjangkau. Namun demikian, penerapan TQM adalah suatu proses jangka panjang dan berlangsung terus menerus, karena budaya suatu organisasi sangatlah sulit untuk dirubah. Factor-faktor yang membentuk budaya organisasi seperti struktur kekuasaan, system administrasi, system kerja, kepemimpinan, predisposisi pegawai dan praktek-praktek manajemen berpotensi untuk menjadi penghambat perubahan. Terkadang kekuasaan paling penting di sector publik tidak ditemukan dalam organisasi, tetapi lebih sering terdapat pada system yang lebih besar. Sebagai contoh, system pendidikan, personalia, peraturan dan anggaran berada diluar kekausaan organisasi sector public. Selain hambatan-hambatan yang berada di luar ruang lingkup sebuah organisasi, terdapat kendala lain yang khas di setiap organisasi, seperti kurangnya akuntabilitas terhadap pelanggan, tidak jelasnya visi dan misi, penolakan terhadap perubahan dan lemahnya komitmen di kalangn manajemen senior untuk menerapkan TQM. Potensi keberhasilan TQM sudah Nampak dan dampaknya pun bias diperlihatkan, sekarang yang dibutuhkan adalah keputasan untuk melaksanakan TQM. Hal ini mastinya menjadi bagian dari suatu strategi untuk meningkatkan komitmen lembaga-lembga public untuk memberikan pelayana terbaik kepada masyarakat.

Memunculkan Media Sosial sebgai suatu Lingkungan Kelas

Perkembagan teknoligi dan pengetahuan menuntut manusia untuk beradaptasi dan menambah keterampilan, agar tidak menjadi obyek dan perkembangan teknologi, yang kemudian akan terburuk dalam kawan persaingan. Untuk mempertahankan eksistensi organisasi diperlukan kualitas produk, menurut Juran (V. Daniel Hunt, 1993: 32)kualitas produk adalah kecocokan penggunaan produk untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan berdasarkan lima ciri utama yaitu: (1) teknologi, kekuatan atau daya tahan (2) psikolologi, citra rasa atau status (3) waktu, kehandalan (4) kontraktual, adanya jaminan (5) etika, sopan santun, ramah dan jujur.

Pada pembelajaran lingkungan di Indonesia melalui pembukaan kelas jejaring social sudah saatnya dilakan, dalam rangka membekali mereka dan membentengi mereka, agar etika, akidah mereka, psikologi dan komitmen untuk menjadi baik dapat diakses dalam jejaring sisial baiik lewat  khusunya melalui fasilitas teknologi, namun pemunculan jejaring social sebagai lingkungan kelas merupakan upaya yang sangat mahal dan dampak sosialnya akan sangat terasa, bahkan bila identitas pembelajaraan tidak terdeteksi bukan suatu myang mustahil terjadinya penyimpangana. Kehadiran jejaring social merupakan perkembangan yang tak terelakkan, banyak orang yang menganggapnya bencana, tetapi tidak sedikit pula mereka yang menganggap wahana, yaitu sebagai media dakwah, silatur Rahim online, kajian keilmuan dan jejaring lain yang bermanfaat. Kehadiran perkembangan teknologi seiring dengan landasan yang di cetuskan al Qur’an:

Artinya: hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langgit dan di bumi, baik dengan kemauan ya sendri ataupun terpaksa(dan sujud pula) bayang-banganya di waktu pagi dan petang hari. (QS. Ar-ra’d: 15).

Jasa pelayang yang tidal mengikuti perkembangan dan tidak memanfaatkan teknologi lambat laun akan di tinggalkan oleh pelanggan, karena mereka mencari kepuasan berdasarkan ciri kualitas yang terus berkembang dan komplit. Dalam penggunaan jejaring social sebagai lingkungan kela walaupun tidak semua siswa dapat masuk pada jejaring kelas tersebut, karena keterbatas daya mereka miliki, hendaknya pembelajaran melelui jejaring social sudah harus mulai di gunakan oleh pemangku kebijakan, untuk membiasakan mereka menggunakan apapun termasuk jejaring social untuk kepentingan yang positif, namun demikian penggunaannya perlu dikendalikan dengan pembekalan, baik bekal keterampilan  ilmu pengetahuan horizontal maupun vartikal. Sebab pembekalan spiritual yang mantap akan menjadikan mereka bertanggung jawab pada dirinya, institusi dan public, sebab taka da satupun yang tidak diminta pertanggung jawaban, sebagiamana firman Allah:

Artinya: dan katakanlah: “ bekerjalah kamu, maka allah dan Rasul- Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada  (Allah) yang mengetahui akan ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan (QS.  Al-Taubat: 105).

Pembekalan keterampilan guru dan siswa memanfaatkan teknoligi merupakan suatu keharusan, namun dalam mengelola organisasi  perlu adanya pertimbangan yang matang melalui skala prioritas.

*Kandidat Guru Besar di bidang Menejemen pendidikan islam IAI Al-Qolam Malang

Pos terkait