INTENSITAS PESANTREN

  • Whatsapp

Oleh : Muhammad Husni*

Dalam sejarah, pada setiap komunitas terdapat pihak-pihak tertentu atau lembaga yang melakukan peran-peran pendidikan, entah lembaga tersebut bersifat resmi atau tidak. Bersifat resmi karena keberadaannya disahkan oleh pemerintah. Yang tidak resmi keberadaannya dibutuhkan oleh segenap masyarakat, sekalipun pemerintah tidak mengesahkannya. Pendidikan tersebut, apa pun bentuknya melakukan transmisi ilmu Pengetahuan dari generasi ke generasi berikutnya. selain itu atas dasar kekayaan ilmu Yang diembah, juga berperan sebagai pencerah kehidupan masyarakat, obor pemberi Penerang, atau jika di laut sebagai mercusuar yang berfungsi sebagai penunjuk arah bagi seluruh kapal yang lewat, agar tidak tersesat.

dalam masyarakat jawa dahulu, terdapat lembaga pendidikan yang disebut padepokan. gurunya disebut dengan istilah Resi, sedangkan para muridnya dikenal dengan sebutan Cantrik. Anak-anak muda dari berbagai penjuru hadir ke pedepokan ini untuk ngangsu kawruh yang telah dimiliki oleh sang Resi. Mencari ilmu di dunia padepokan, dilakukan dengan latihan, baik latihan batin maupun latihan raga atau fisik. Melatih batin atau olah batin artinya mengupayakan agar jiwa menjadi bersih, menjauh dari hal-hal yang mengotorinya. Membersihkan batin, biasanya juga dibarengi dengan olah fisik.

Mirip dengan padepokan adalah Pesantren. Seseorang yang memiliki pengetahuan agama islam lebih, didatangi oleh anak-anak muda untuk belajar agama. Orang yang di pandang memiliki pengetahuan agama islam dan dijadikan sebagai guru itu disebut Kyai, sedangkan muridnya disebut Santri. Lembaga pendidikan Pesantren, sama dengan padepokan, tergolong lembaga tidak resmi. lembaga ini, lahir, tumbuh, dan berkembang atas prakarsa Kyai sendiri. Keberadaannya karena dibutuhkan oleh masyarakat. Kyai tidak mencari Santri, sebagaimana Resi tidak mencari Cantrik.  melainkan sebaliknya, para Santri atau cantrik mencari Kyai atau resi. Baik resi maupun Kyai tidak pernah terdengar memasang tarif yang menanggung kebutuhan hidup para Santrinya. Sebagai imbalan, para penuntut ilmu tersebut, bekerja membantu sang guru, Kyai atau Resi.

Sama halnya dengan padepokan, ketenaran Pondok Pesantren ditentukan oleh ketinggian tingkat keilmuan Kyainya. Kyai besar akan didatangi oleh Santri dari berbagai penjuru dalam jumlah yang banyak. Kebesaran Kyai bukan ditunjukkan dari pengakuan pihak-pihak penguasa, dirupakan dalam bentuk surat keputusan, sertifikt atau dokumen lainnya. Melainkan pengakuan itu datang dari masyarakat. Ukuran-ukuran kebesaran para Kyai tersebut, datang dari masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, kebesaran Kyai bergantung pada tingkat pengetahuan dan wawasan masyarakatnya. Seorang Kyai sangat diakui dan dihargai oleh masyarakat tertentu, tetapi ternyata belum diakui oleh masyarakat lainnya. Akan tetapi, kebesaran Pesantren sama dengan kebesaran padepokan akan selalu diukur dari pribadi Kyainya. Pesantren besar bukan ditentukan oleh kelengkapan sarana dan prasarana Pesantren, melainkan oleh tingkat pribadi para Kyainya. Dengan ukuran seperti itu, maka tidak akan pernah ada Pesantren tanpa Kyai, atau Padepokan tanpa seorang Resi.

Pesantren ditempatkan sebagai sarana dakwah. Di tengah-tengah semakin banyak lembaga pendidikan yang berorientasi bisnis, lembaga Pesantren masih tetap memposisikan diri sebagai lembaga pendidikan untuk membangun umat.Untuk mempertegas orientasinya itu, maka Pondok Pesantren melakukan pembinaan terhadap Santri dan kalangan masyarakat di antaranya pengajaran, bimbingan, peneladanan atau pembentukan karakter,  dan program pengabdian masyarakat. Dengan cara seperti itu, maka hubungan yang terjalin antara Pesantren, Santri, alumni, dan masyarakat sangat efektif, harmonis dan tidak pernah putus. Sehingga visi misi Pesantren dalam proses pemberdayaan masyarakat dapat terus diperjuangkan dan diimplementasikan secara terus-menerus.  Aktualisasi diri, keyakinan, kebersamaan, keamanan, dan fisiologi. Budaya hidup sehat di Pondok Pesantren sering dipertanyakan. Budaya hidup sehat yang dimaksud berkaitan dengan pola konsumsi makanan, kebersihan lingkungan, perilaku hidup sehat seperti olahraga dan lainnya.  Pondok Pesantren modern/sekolah sambil mesantren. Bagaimana pola makan Santri sehari-hari dalam Pondok Pesantren, Bagaimana Santri dalam menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan sekitar, Bagaimana Santri memaknai kesehatan dan kebersihan, dan Bagaimana perilaku sehat pada Santri.

Mengetahui perilaku sehat pada Santri. Persepsi sehat menurut Santri adalah individu mempunyai jasmani dan rohani yang sehat, sehat jasmani adalah badan yang tidak berpenyakit dan badan selalu sehat, bisa beraktivitas dalam kegiatan sehari-hari sedangkan sehat rohani adalah menjaga dari penyakit hati. Pola hidup sehat Santri kepada Santri untuk meningkatkan nilai gizi dalam makanan dan mengkonsumsi makanan yang higenis, menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan sekitar, berikan ventilasi yang cukup dalam kamar atau tempat tinggal, budayakan pola perilaku hidup sehat dengan ditambah olahraga senam, joggi ng dan lainnya, mengkonsumsi air yang matang, istirahat dengan cukup dan gunakan alas tidur dengan kasur. Bagi Santri yang jauh dengan orang tua ada pengganti orang tua di pesanten sehingga Santri tidak canggung ketika ada permasalahan yang di hadapinya dan orang tua yang ada dirumah menjadi tenang. pengasuh Pondok Pesantren untuk mengawasi Santri baik siang dan malam dan malam dan memperhatikan kesehatan dan memberitahukan kepada para Santri baik yang diajarkan dalam kitab melalui pengajin atu ceramah umun tentang perilaku sehat dan bersih karena kebersian merupakan cerminan iman.

karakter orang  berbeda-beda, ada yang suka menjaga kebersihan dan ada juga yang sebaliknya, Yang suka menjaga pola makan, ada pula yang pola makananya kurang teratur, sering puasa senin kamis, memang dalam ilmu kesehatan pun diakui bahwa puasa senin kamis bisa digunakan untuk menjaga kesehatan, tapi kita harus mempertimbangkan gizi dalam makanan yang kita makan ketika buka puasa, apakah sudah memenuhi kebutuhan tubuh kita. masalah lingkungan, masyarakat Pesantren kebanyakan tidak maksimal menjaga kebersihan lingkungan walaupun ada tuntutan untuk hidup mandiri.

*Kaprodi Pascasarjana dan kandidat guru besar menejement pendidikan islam IAI al-Qolam Malang

Pos terkait