Heboh,Kota Jepara Bakal Alami Hari Tanpa Bayangan

oleh
fenomena jepara kota tanpa bayangan

fokusmuria.co.id, Jepara – Wilayah Jawa Tengah akan mengalami fenomena Hari Tanpa Bayangan secara beruntun. Fenomena ini akan terjadi selama beberapa menit dan bermula pada siang hari sekitar pukul 11.24 WIB.

Fenomena tersebut terjadi ketika matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit. Fenomena ini juga disebut sebagai kulminasi utama.

Menurut Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Semarang yang kami langsir dari murianews.com menyebut, jika di Jawa Tengah fenomena ini akan terjadi mulai Kamis (10/10/2019). Seluruh wilayah di Jawa Tengah akan mengalami fenomena ini, namun hari dan waktunya berbeda.

Baca Juga :  Sembuh dari Covid 19 Jepara, Pengusaha di Jepara bagi 3000 Sembako

BMKG menyebut, Hari Tanpa Bayangan akan muncul selama empat hari. Wilayah pertama di Jawa Tengah yang akan mengalami fenomena ini yakni Kabupaten Jepara. Di daerah ini Hari Tanpa Bayangan akan mulai muncul pada pukul 11:24:29 WIB.

Hari berikutnya atau Jumat (11/10/2019) akan ada 15 daerah yang secara serentak mengalami fenomena ini. Yakni mulai dari Pati, Blora, Semarang hingga Brebes.

Dilanjutkan pada hari ketiga yakni Sabtu (12/10/2019) Hari Tanpa Bayangan muncul di delapan daerah, yakni Sragen, Salatiga, Ungaran, Purwokerto, hingga Banjarnegara.

Baca Juga :  Korban Perampokan didongos Jepara, masih pakai mukenah

Sedangkan pada tanggal 13 Oktober atau Minggu, Kulminasi Utama akan muncul di bagian selatan Jateng, yakni Wonogiri, Karanganyar, Sukoharjo, Solo, Banyumas, dan Cilacap.

“Matahari akan tepat berada di atas kepala pengamat atau di titik zenit. Akibatnya, bayangan benda tegak akan terlihat menghilang karena bertumpuk dengan benda itu sendiri,” ujar Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara Setyoajie Prayoedhie, kepada wartawan.

Ia memastikan munculnya Hari Tanpa Bayangan atau kulminasi utama tak berdampak apa pun bagi manusia. Hanya saja, saat kulminasi utama itu terjadi manusia tak dapat melihat bayangannya.

Sementara Kepala Stasiun Meteorologi Cilacap Taruna Mona Rachman menjelaskan, kulminasi juga sering disebut transit atau istiwa’. Fenomena ini sebenarnya selalu terjadi dua kali dalam setahun.

Baca Juga :  Sembuh dari Covid 19 Jepara, Pengusaha di Jepara bagi 3000 Sembako

Hanya saja, fenomena ini selalu menarik saat terjadi pada kemarau. Karena pada kemarau, tutupan awan minim sehingga mempermudah pengamatan.

Ia menyebut, Jepara akan menjadi wilayah pertama di Jateng yang mengalami fenomena ini, karena wilayahnya berada pada sisi utara timur Jawa Tengah.

”Jika Jepara menjadi wilayah yang tercepat di Jawa Tengah, Cilacap akan menjadi wilayah terkahir di Jawa Tengah yang mengalami fenomena ini,” terangnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.