Inilah Awal Mula Hari Kusta Internasional dari WHO

  • Whatsapp
Hari Kusta Internasional

Fokusmuria – Hari Kusta Internasional Hari Kusta Internasional diperingati setiap 27 Januari.

Penyakit kusta termasuk salah satu penyakit yang mendapat perhatian khusus di dunia karena merupakan penyakit tertua dan selama ini dianggap mudah menular.

Bacaan Lainnya

Berdasar laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tiap hari nyaris 600 lebih orang didiagnosa dan mengawali penyembuhan kusta.

Di tahun 2014 saja, 213.899 orang didiagnosa sakit kusta dan diprediksi juta-an yang lain tidak terdeteksi.

Sejarah Hari Kusta Internasional

Diambil dari MedIndia, riwayat pertama penyakit kusta disebut berada di India di awal 600 SM, di mana itu disimbolkan dengan istilah Sansekerta ‘Kushtha’, yang secara harfiah bermakna ‘menggerogoti’.

Laporan kehadiran kusta dapat diketemukan dalam tulisan kuno dari Jepang (era kesepuluh SM) dan Mesir (era ke-16 SM).

Penulis kuno sudah menyampaikan beberapa teori mengenai asal-usul dan penebaran penyakit kusta, seperti infeksi yang dari sungai Nil, rutinitas makan warga yang tidak higienis dan lain-lain.

Pasien Kusta harus hadapi kritikan dan tindakan yang ketat bahkan juga di masa lampau. Mereka diwajibkan kenakan pakaian khusus dan seterusnya harus bawa genta kayu untuk mengingatkan seseorang jika mereka sedang bergerak.

Mereka dilarang berkunjung beberapa tempat umum seperti pabrik, rumah kue atau gereja dan harus jaga jarak supaya tidak sentuh orang sehat yang lain atau makan dengan mereka.

Beberapa penderitanya tidak dibolehkan berjalan di jalan setapak yang sempit atau membersihkan di sumber air biasa seperti sumur, sungai, dan lain-lain.

Penyebab Kusta

Penyakit kusta ialah penyakit akut yang disebabkan karena kuman Mycobacterium leprae. M. leprae berkembang biak dengan lamban dan periode inkubasi penyakit rerata ialah lima tahun.

Dalam beberapa kasus, tanda-tanda bisa tampil dalam kurun waktu setahun, tapi juga bisa memerlukan waktu sampai 20 tahun.

Penyakit ini khususnya serang kulit, saraf pinggir, mukosa aliran pernafasan sisi atas, dan mata, di mana orang yang menanggung derita penyakit ini berasa susah untuk tutup mata.

Tanda pertama kusta umumnya berbentuk bintik kulit yang berbeda warna apabila tidak diobati, kusta mengakibatkan raibnya kesan, kelumpuhan, bisul dan infeksi, yang bisa mengakibatkan kebutaan dan amputasi.

Saraf yang jadi membesar bisa juga jadi tanda kusta. Saraf ulnaris, dibagian belakang siku, ialah yang tersering terserang dan saraf peroneal dibagian luar kaki, pas di bawah lutut.

Disamping itu, kusta kadang mengakibatkan bintil atau tonjolan di kulit.

Penyembuhan Kusta

G.A. Hansen pertama kalinya mengenali bakteri ini di tahun 1873, membuatnya kuman pertama yang dideteksi selaku mikroorganisme pemicu penyakit. Ini dikatakan sebagai penyakit Hansen.

Perubahan Dapson di tahun 1941 mengidentifikasi tonggak riwayat dalam penyembuhan kusta. Clofazimine dan Rifampicin adalah obat yang lain umum dipakai.

Pemakaian obat secara luas sepanjang tahun 1970-an menyebabkan perubahan kekebalan, hingga tidak efisien jika diresepkan sendiri.

Di tahun 1985, kusta dilihat selaku permasalahan kesehatan warga yang khusus nyaris di 122 negara. Pengenalan gabungan Rifampisin, Clofazimine dan Dapsone (MDT) berbentuk ‘blister pack’ memutar penyembuhan kusta untuk ke-2 kalinya.

Pemberian MDT gratis ke sejumlah negara di dunia oleh WHO, batasi penebaran dan peristiwa penyakit selanjutnya.

Perusahaan farmasi ‘Novartis’ pantas mendapatkan perhatian khusus berkenaan dengan pembasmian kusta sebab keterlibatan aktifnya.

Program pembasmian kusta yang berkepanjangan dan stabil pastikan kebiasaan kusta serendah 1 dari 10.000 pada tahun akhir 2000.

Implementasi therapy MDT yang efisien di wilayah yang awalnya tidak dapat dijangkau, pengenalan awal kerusakan saraf dan manajemen kekambuhan sesudah MDT periode pendek sebagai wakil beberapa rintangan yang perlu ditangani untuk pastikan pembasmian kusta secara habis.

Sebuah study memberikan laporan, walau program kusta global membuat perkembangan signifikan dalam kurangi beban penyakit, diagnosis kasus baru sudah konstan di range 215.000-245.000 di penjuru dunia di antara 2009 dan 2013.

Pada 2013, 13.289 kasus baru mempunyai disabilitas tingkat 2 (G2D), yang menggambarkan kesadaran yang rendah dalam masyarakat mengenai kusta dan kemampuan mekanisme kesehatan yang kurang maksimal untuk mengetahui penyakit secara awal.

Seputar 9 % dari kasus baru berlangsung pada beberapa anak, yang memperlihatkan penyebaran penyakit yang berkepanjangan. Ini mungkin saja menunjukkan jika terjadi stagnasi dan minimnya pendekatan baru dalam pengaturan kusta.

Daerah Asia Tenggara (SEAR) sekarang ini mempunyai kebiasaan paling tinggi yakni 116.396 (0,63) kasus dan angka penemuan kasus baru paling tinggi sejumlah 8,38 per 1.00.000 (155.385 kasus dengan 72% beban kusta global).

India sendiri menyumbangkan 58,85 % dari beban kusta global.

Pos terkait