GURU, PROFESI DAN PROFESIONALISME

oleh

Menjadi seorang guru atau memiliki profesi seorang guru adalah impian yang mulia dan penuh dengan rasa hormat. Di samping ada dasar paradigma berpikir bahwa menjadi guru adalah ajang amal jariah yang tidak ada putusnya. Oleh karenanya guru adalah pahlawan tanpa “tanda” jasa.

Tidak perlu ditutup-tutupi bahwa pencapaian hasil kompetisi bukan menjadi perhargaan yang ansich bagi peserta didik, tetapi mutlak bagi guru atau lembaga pendidikannya. Maka wajar jika pamflet-pamflet, baliho, brosur, dan media sosial cetak maupun online dipenuhi dengan kegemilangan pencapaian-pencapaian “Keberhasilan.” Perihal peserta didik menjadi pekerja atau karyawan toh itu misinya, yakni “Lulus langsung kerja.”

Bagaimana dengan mental, sikap, psikologi, cara dan corak berpikirnya?, Moral efeknya.

Tetapi hal ini adalah kebaikan di sisi lain. Karena pada dasarnya secara filosofis manusia lahir untuk menanam, bukan memakan. Oleh sebab itu khusnudzan saya adalah pendidikan adalah wadah untuk belajar bekerja agar mampu mencari makan.

Guru memiliki sisi profesionalisme nya, transformasi nilai, membentuk karakter, menularkan pengetahuan, membuka ruang kognitif peserta didik dan menjaga pola keseimbangan dalam tatanan sosial. Karena guru menjadi publik figur yang nyata di dalam masyarakat. Bukan hanya secara pribadi tetapi semua pihak yang berkaitan dengan pribadi guru tersebut.

Ki Hajar Dewantara dalam satu pesannya berkata bahwa semua manusia adalah murid, dan semua manusia adalah guru. Sehingga bukan perihal siapa dan bagaimana tetapi perihal kemauan dan keseriusan dalam belajar.

Tugasnya sama-sama belajar, bukan saling mengajari. Kepatutan dalam menjalani kehidupan tergantung kepada bagaimana sikap belajar itu sendiri. Baik sebagai guru atau bukan. Ujaran lama berkata bahwa guru terbaik adalah pengalaman. Maka seberapa sering baik itu guru atau murid atau siapapun saja, belajar untuk menelanjangi diri sendiri demi menuntaskan proses belajarnya. Dengan kata lain berusaha untuk introspeksi diri.

Sayyidina Ali Karamallahu Wajah menyebutkan bahwa siapapun yang mengajariku satu huruf maka ia adalah guruku. Disusul dengan pernyataan bahwa lihatlah apa yang termuat dalam suatu pesan, bukan melihat pada siapa yang membawa pesan. Hal ini jelas bahwa ada sikap profesionalisme yang harus dimiliki oleh siapapun dalam tahap belajar. Dengan kata lain bukan berarti guru adalah wadah yang selalu benar. Dalam kondisi tertentu ada siklus yang memaksa untuk belajar pula. Utamanya kepada kehidupan.

Namun jauh dari pada itu ada sebagian orang yang enggan menyebut dirinya guru. Seperti halnya kyai kampung atau guru ngaji di kampung. Karena yang terpenting bukan julukan atau kewibawaan yang tumbuh dari julukan tersebut, tetapi seberapa besar moral efek yang diberikan kepada anak-anak didiknya. Proses pengendapan dan kedalam berpikir selayaknya harus dimiliki oleh siapapun,

karena pada dasarnya perjuangan adalah proses bagaimana mengejawantahkan nikmat Tuhan yang berupa kesehatan atau pikiran jernih, sehingga ada proses take and give dalam perjalanan belajar di universitas kehidupan.

Rumah kalijogo, 2019

No More Posts Available.

No more pages to load.