Fenomena yang Arab pasti religi

  • Whatsapp

Oleh : Ahmad Dahri

Beberapa waktu lalu sempat ramai perihal anggapan bahwa lagu “Ya Tabtab” yang dinyanyikan oleh Nissa Sabyan dalam sebuah acara di stasiun televisi.  Ya tabtab adalah lagu yang digubah untuk mewakili kegalauan sang penulis lagu. Penyanyi aslinya adalah Nancy Ajram, lagu yang berjudul “cucup” atau panggilan manja pada kekasihnya ini menjadi  buah bibir kaum maya beberapa hari ini.

Jika di Arab dan negara-negara bagiannya terdapat lagu galau. Begitu juga di indonesia, banyak sekali lagu-lagu ambyar untuk mewakili keambyaran para pendengar.

Setiap perasaan berhak untuk terwakili. Setiap cerita berhak untuk didengarkan. Begitulah hakikatnya sebuah rasa. Dalam bentuk apapun pastinya. Jika lagu maka ia bernada dan berirama, jika cerita maka ia akan berjumpa dengan alur-alur yang bergerak maju, mundur lalu berarhir dengan ending yang beragam pula.

Bangsa di luar arab yang menganut agama islam pasti memuarakan suatu ajaran pada sistem bahasa di mana islam pertama kali dikenalkan. Bahasa Arab tentu menjadi bahasa ritus agama. Bahkan digadang-gadang sebagai bahasa surga. Walupun sebenarnya, sikap dan nilai religiusitas tidak bisa dikaitkan dengan bahasa tentrntu.

Tidak ada salahnya menyanyikan atau membaca syair arab. Di luar kewajiban memahami al Quran. Dalam konteks pengetahuan tentu berbeda.  Karena suatu pengetahuan akan didapat – pahami ketika ia memahami pula bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pengetahuan tersebut.

Dengan kata lain, bahasa menjadi jembatan untuk memahami segala sesuatu. Jika dalam linguistik dikenal kesalahan bahasa dengan beragam identifikasinya. Dari membiasakan stimulus respon, sampai mengenali lingua dan parolenya.

Dengan kata lain ada upaya untuk mengatasi kesalahan bahasa yang dialami oleh setiap manusia. Yang perlu digaris bawahi adalah upaya belajar dan membiasakan untuk memahami suatu bahasa. Atau ketika belajar bahasa.

Dan seharusnya dalam menyanyikan lagu juga perlu ada pemahaman terlebih dahulu. Jika para sobat ambyar sampai menangis dan berderai-derai airmatanya ketika bernyanyi bersama (alm) Pak De Didi Kempot, karena mereka paham terkait isi dan maksud lagu tersebut. Dengan kata lain lagu itu tersampaikan dan benar-benar mewakili isi hati dan perasaan pendengar.

Sedangkan fenomena keagamaan dewasa ini dibenturkan kepada identitas-identitas. Bahasa Arab adalah bahasa al-Quran, tetapi tidak semua bahasa Arab seperti apa yang tertuang dalam al Quran. Sehingga tidak melulu religius. Toh pada akhirnya juga ada bahasa arab yang isinya misuh-misuh, bahkan sangat tidak manusiawi.

Permasalahannya sebenarnya adalah bagaimana kita memilih dan milah, serta upaya untuk memahami secara mendalam. Dan akan berbeda jija lagu atau syair itu hanya untuk sekadar hiburan. Tetapi apa yang tidak bernilai hiburan di negara +62 ini? Agaknya semua bernilai hiburan, bahkan agama.

Lagu religi, berarti lagu tersebut mengandung nilai-nilai keagamaan. Kaitannya sengan spiritualitas dan semangat keberagamaan seseorang.

Lantas apa sebenarnya lagu religi yang selama ini kita dengar bahkan muncul di layar kaca anda? Apakah setiap syair yang dari Arab pasti bersifat Religi? Atau lagu religu sebenarnya adalah lagu yang tidak keluar dari kontek Tuhan dan Nabi-Nya?

Jika sudah anda temukan apa yang dimaksud lagu religi, maka anda tahu harus bersikap seperti apa terkait publik figur yang menyanyikan lagu arab. Pun terkait komentar-komentar tentang Nissa Sabyan yang menyanyikan lagu “Ya Tabtab”.[] (Baca Juga : untan membangun ekosistem digital menuju cyber university)






Pos terkait