Defisit nilai dan makna hidup

oleh

Fokusmuria.co.id Defisit makna hidup adalah pemicu dari jauhnya kebahagiaan. Manusia memiliki kebutuhan yang bersifat jasmani dan ruhani. Fisik dan batin. Permasalahannya adalah sebagai manusia, lebih dahulu mana antara memenuhi kebutuhan fisik dan batin? Dr. Victor Frankl memberi gambaran bahwa kebutuhan fisik manusia akan terpenuhi jika ia mampu menyeimbangkan antara kebutuhan batin.

Kebanyakan manusia lebih sering mengambil kesempatan dalam memenuhi kebutuhan fisik ketimbang kebutuhan batin. Kebanyakan orang menyangka bahwa kebahagiaan itu adalah dengan terpenuhinya kebutuhan fisik; seperti makan, minum, karir, popularitas dan lain sebagainya. Padahal konsekuensi yang diambil tidak jarang melukai bahkan sampai bunuh diri. Merasa bahwa terdapat lubang kosong di dalam dirinya yang belum terpenuhi oleh segala kepemilikannya.  Bisa jadi kebutuhan mencinta. Tidak sedikit tuna asmara yang merasa gagal dalam dunia cinta tetapi menang dalam dunia yang lain.

Baca Juga :  Lirk Lagu Los Dol "Denny Caknan" di lengkapi Chord Gitar
Ilustrasi: brilio.net

Maka bisa kita katakan bahwa kebutuhan yang bersifat materi belum tentu berkaitan dengan kebutuhan batin. Karena kebahagiaan bermuara di dalam jiwa. Sedangkan seseorang yang ditinggal meninggal istri atau suaminya, cenderung merasa sendiri dan kesepian. Padahal akan menjadi kondisi yang berbalik ketika ia harus meninggal terlebih dahulu meninggalkan istri atau suaminya. Secara tidak langsung ia membebaninya dengan rasa sedih yang luar biasa besar.

Baca Juga :  Ruang kendali, puasa dan memuasakan diri

Oleh sebab itu diperlukan kepiawaian dalam menggali nilai positif dari setiap kejadian. Karena, belum tentu kesedihan yang dirasakan hanya akan berdampak negatif saja, bisa jadi terdapat nilai-nilai positif yang bisa diambil.

Menggeser sudut pandang dari negatif kepada pandangan posifif (hikmah) justru akan melebarkan pintu kebahagiaan. Tuhan menciptakan kebaikan (nilai positif) di dunia ini, sedangkan manusia cenderung merubah kebaikan itu dengan konsep dan pemahamannya sendiri.

Maka siapapun yang mampu mengambil nilai positif dalam kehidupan, ia akan dipenuhi oleh kebahagiaan. Sedangkan ia yang berdiri pada posisi sudut pandang pribadinya maka sejatinya ia membangun jurang kesengsaraannya sendiri. Oleh karenanya defisit makna kehidupan bisa dipenuhi dengan kemauan untuk mendiskusikan dengan dirinya sendiri, bahwa sudut pandang hanya sebatas sudut pandang, bisa juga salah pun memiliki potensi kebenaran.  Di mana setiap manusia memiliki kemajemukan pola pikir. Hal ini menjadi modal untuk berdiskusi dengan dirinya sendiri secara mendalam.

Baca Juga :  Pulang

Jika selama ini kita merasakan kehampaan di dalam diri kita maka yang perlu dilakukan adalah menggeser sedikit sudut pandang kita, agar ditemukan corak pemikiran yang lain. maka akan menjadi keniscayaan setiap individu dipenuhi dengan kebahagiaan, karena ia mampu mengambil nilai positif dalam setiap kejadian.

***

No More Posts Available.

No more pages to load.