Budaya (Kearifan) Lokal

  • Whatsapp
Cultural Infosion

Ahmad Atho’ Lukman Hakim*

Orang sering salah kaprah dengan kata budaya  dan produk budaya. Saat bicara  tentang budaya, ingatan mengarah pada seni tari, hadrah, teater, musik, puisi, dan sebagainya – yang dicontohkan tersebut adalah produk budaya atau bisa disebut juga anak turun dari budaya.

Budaya dalam bahasa Inggris disebut culture yang bermakna sama dengan cultivation yang bermakna ‘menumbuhkan’. Sedangkan akar kata budaya berasal dari bahasa sansekerta yaitu budhayah, bentuk plural dari kata buddhi yang berarti akal. Ada juga yang mengartikan kearifan.

Dengan demikian secara kebahasaan budaya adalah kearifan atau akal budi yang selalu aktif menumbuhkan pemiliknya. Sehinggga budaya seringkali didefinisikan sebagai suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dari generasi ke generasi.

Para pakar secara garis besar membagi kebudayaan menjadi 2: Kebudayaan bersifat materi seperti candi, senjata, gedung pencakar langit, dsb; dan kebudayaan bersifat immateri seperti hukum, pemikiran, dongeng.[]

Pembentukan kebudayaan

Cara menghayati, berfikir yang melahirkan cara bersikap dan bertindak adalah inti kebudayaan. Berawal dari yang sederhana dalam mengenal diri dan sekitarnya yang kemudian melembaga menjadi norma. Norma yang disepakati menjadi kebiasaan (custom) yang berkamululasi menjadi ‘nilai’ (value). Kemudian nilai akan menuju etika yang berujung pada pengalaman berkebudayaan, yakni estetika.

Tiap kebudayaan pasti mempunyai akar historis yang berbeda bahkan bisa pandangan dunianya. Budaya Barat akan berbeda dan Timur; Budaya Jawa akan berbeda dengan Cina demikian juga seterusnya.

Sebagai sebuah cara menghayati dan bertindak dalam hidup, budaya akan selalu mengalami dialektika ketika dihadapkan pada kenyataan yang berubah atau bertemu dengan kebudayaan yang lainnya. Oleh karena itu wajar, dalam berkebudayaan ada proses mengambil, mempertahankan atau membuang.[]

Kebudayaan ( Kearifan) lokal

Sengaja budaya dan kearifan tidak dibedakan. Sebab sebagaimana tertera pada awal tulisan ini budaya dan kearifan adalah semakna sehingga tidak perlu ada kata sambung ‘dan’.

Bicara kebudayan dan kearifan lokal kita harus berhati-hati agar tidak terjebak pada eksotisme dan ujung-ujungnya adalah budaya kapitalisme. Dalam hal ini Bali adalah salah satu contoh kecenderungan tersebut. Kecenderungan ini tampaknya mulai kita rasakan di sekitar kita bagaimana kebudayaan hanya dimaknai sebagai ‘eksotisme’ tanpa ruh dan ujungnya adalah pelembagaan ‘ektasisme’ dan ‘libidolisme’.[]

Bagaimana Sikap Berkebudayaan Kita?

Apa yang kita pikirkan jika dulu rumah warga hampir tanpa pagar tidak seperti sekarang ? Mengapa perayaan maulidan, tahililan, barzanji, manaqiban ada  yang membidahkan? Kenapa tradisi menaruh minuman air putih sering didapati ditaruh di depan rumah untuk para musafir sekarang tidak lagi? Dulu dalam pemilihan kepada desa  yang dicoblos adalah gambar tumbuhan sekarang gambar orang yang mencalonkan diri?

Ya, jawabnya adalah terjadi pergeseran budaya. Pertanyaannya, bagaimana menjelaskan budaya kita hari ini ? Lalu yang dimaksud lokalitas budaya itu penjelasannya seperti apa ? benarkah kita masih memiliki budaya lokal disaat homogenisasi budaya yang massif seperti sekarang ini ?

Dalam bidang budaya terjadi globalisasi gaya hidup yang semakin mencerabut akar budaya dan identitas masyarakat Indonesia. Akar filsafat Neo-imperialisme berpijak pada akar rasionalisme dan pragmatisme sehingga melahirkan kebudayaan yang berbasis pada komoditi. Yasraf Amir Piliang (1995) mengatakan bahwa ekonomi libidinal yang dipertontonkan kapitalisme akhir-akhir ini menciptakan masyarakat yang “ekstasi”.

Ekstasi adalah keadaan mental dan spiritual yang mencapai puncaknya. Namun masyarakat ekonomi libidinal tersebut mengalami “spiritualisme semu”. Bila mistisisme menjadikan Tuhan sebagai pusat orientasi, maka “spiritualisme semu” menjadikan kesenangan duniawi, sesuatu yang pragmatis dan narsis sebagai pusat orientasi hidup. Masyarakat akan tecerabut dari nilai-nilai tradisionalnya, otak dan perbuatan mereka tidak berbeda dengan pelaku para pemilik budaya dominan.

Gejala yang demikian sudah sedemikian nyata di Indonesia, tidak hanya para remaja dan pemudanya, para orang tua bahkan tokoh negara ini terjebak dalam “spritualisme semu” ini. Jabatan publik atau politik bukan hanya untuk melayani masyarakat akan tetapi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pragmatisnya.

Banyak para pejabat dan para politisi terjangkit budaya narsistik, hedonis dan hanya peka terhadap kesenangan-kesenangan pribadi dan golongannya.Para remaja tampak kehilangan panutan.Nilai-nilai panutan kalah dengan tawaran kenikmatan-kenikmatan yang disemburatkan oleh industri hiburan.[]

Universalitas vs Lokalitas

Apakah budaya itu universal atau lokal ? Menurut hemat saya keduanya tidak boleh dihadap-hadapkan secara oposisi binner.Karena manusia hidup dipermasalahan dan lingkungan yang berbeda dan unik maka lokalitas kebudayaan adalah keniscayaan. Akan tetapi sisi universalitas manusia dan kemanusiaan menjadikan sisi kebudayaan mempunyai nilai universalitasnya.

Oleh karena itu sikap berkebudayaan  yang tepat adalah sebagaimana yang dirumuskan oleh ulama kita yakni : al-muhafadloh ala qadim al-sholih wal akhdzu bil jadidi al-ashlah. Oleh sebagaian kalangan, dan saya setuju, wal akhdu di rubah menjadi al-ijad. Al-Adah al-Muhakkamah, kebiasaan lokal itu bisa dijadikan dasar legalitas.

Dengan dua kaidah ini lokalitas dan universalitas akan berkelindan berjalan dengan kewajarannya dengan mempertimbangkan kebaikan sebagai dasar mengambil dan membuang sebuah nilai atau kearifan.[]

*Direktur LP3M IAI Al-Qolam Malang

Pos terkait