Berdakwah Kepada Diri Sendiri

  • Whatsapp
FokusMuriaID, Inspirasi – Mengajak orang lain kepada kebaikan itu sulit, tetapi tidak kurang sulitnya adalah mengajak pada diri sendiri. Kita semua berkeinginan melakukan shalat secara khusu’, tetapi untuk meraih  kekhusu’an itu ternyata   sulitnya bukan main. Setelah bertakbiratul ikhram untuk mengawali shalat, segera teringat bermacam-macam hal yang sebelumnya tidak terpikirkan. Maka artinya, mengajak shalat khusu’ pada diri sendiri tidak mudah dilakukan oleh semua orang. 
Berdakwah Kepada Diri Sendiri
Sumber : http://humancapitaljournal.com/
Contoh lainnya, sudah sedemikian diyakini bahwa shalat malam itu sedemikian penting, tetapi juga tidak mudah melaksanakannya.  Sekalipun sudah terbangun pada waktu yang diinginkan, tetapi muncul berbagai alasan untuk tidak menjalankan ibadah yang dianggap penting itu. Demikian pula, melaksanakan berbagai jenis ibadah lainnya, baik yang bersifat ritual, sosial, maupun intelektual. Maka artinya,  mengajak diri sendiri tidak selalu berhasil,  dan bahkan justru sering gagalnya. 
Di dalam diri manusia selalu ada dua kekuatan atau potensi yang menghendaki untuk dipenuhi, yaitu kekuatan ruhiyah dan kekuatan insaniyah. Keduanya bertolak belakang. Kekuatan ruhiyah selalu mengajak pada kebaikan. Oleh karena ruh dimaksud berasal dari nur  Muhammad, maka ia memiliki sifat siddiq, amanah, tabligh,  dan fathonal. Namun  sebaliknya, potensi atau sifat insaniyah selalu mengajak pada  hal-hal yang kurang baik, yaitu memenuhi dorongan hawa nafsu yang juga ada pada dirinya. 
Pergulatan antara potensi atau kekuatan ruhiyah dan insaniyah tersebut akan dimenangkan oleh salah satunya. Manakala kekuatan ruhiyah  berhasil memenengkan, maka perilaku manusia akan menjadi baik, dan demikian pula sebaliknya. Dakwah kepada diri sendiri, tentu adalah berusaha memenangkan jenis bisikan ruhiyah itu.  Kedua jenis kekuatan itu,  sehari-hari berebut kemenangan.  Secara kongkrit,  kita merasakan ada dua jenis bisikan di dalam dada kita masing-masing, yakni untuk melakukan kebaikan atau sebaliknya, yaitu  memilih alternatif  yang sebenarnya telah disadari bersifat kurang baik. 
Tatkala mendengarkan suara adzan subuh, maka potensi atau kekuatan ruhiyah akan mengajak untuk segera meninggalkan tempat tidur, dan bersegera mengambil air wudhu dan berangkat ke masjid untuk shalat berjama’ah. Akan tetapi kekuatan insaniyah  yang berada di dalam hati pula, juga mempengaruhi dengan berbagai alasan, agar tetap saja tidur. Dua kekuatan itu sehari-hari saling tarik menarik untuk berebut kemenangan. Siapa yang kuat, maka ialah yang menang. 
Kekuatan yang tidak tampak, oleh karena berada di dalam hati itu,  rupanya juga mirip dengan hal yang bersifat fisik. Potensi dimaksud menjadi kuat jika dilatih dan dilakukan sehari-hari secara istiqomah. Manakala potensi dimaksud  tidak pernah dikembangkan, maka akan menjadi lemah dan begitu pula sebaliknya. Kebiasaan shalat malam misalnya, akan mudah dilakukan manakala sudah menjadi kebiasaan. Sebaliknya, akan menjadi berat manakala belum menjadi kebiasaan, atau masih sekali-kali dilakukan dan sekali-kali juga ditinggalkan.
Orang yang sudah terbiasa peduli kepada anak yatim, maka akan sedemikian mudah memberikan seseuatu kepada anak yang tidak memiliki orang tua dimaksud. Demikian pula, orang yang tidak pernah mengeluarkan zakat, menjalankan puasa di bulan Ramadhan, dan jenis kebaikan lainnya, akan menjadi sangat sulit menjalankannya. Begitu sebaliknya, manakala sudah menjadi kebiasaan, maka kebaikan itu akan dilaksanakan dengan mudah. Pembiasaan menjadi sangat penting di dalam mengajak dirinya sendiri melakukan kebaikan. 
Sebaliknya, orang yang sehari-hari lebih banyak mengikuti hawa nafsu, godaan setan, dan dunia, akan sulit  berubah memenangkan potensi ruhiyahnya. Kemeangan itu  bukan tergantung pada orang lain, melainkan pada dirinya sendiri. Al Qur’an juga mengatakan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sepanjang kaum itu tidak mengubah apa yang ada pada diri mereka  sendiri. Oleh karena itu berdakwah kepada diri sendiri menjadi amat penting, namun  seringkali justru terlupakan. Orang lain diajak melakukan kebaikan, sementara itu dirinya sendiri masih lupa atau belum menjalankannya. Tentu, terasa aneh. Wallahu a’lam 
Baca Juga :  Belajar Sejak remaja, Gadis ini Menjadi Perias pengantin dan banyak pelangganya.

Pos terkait