Beranda pesantren garasi, Pembelajaran Class Without Wall

  • Whatsapp

Dr. Muhammad Husni., M.Pd*

Pesantren memiliki karakteristik yang tidak dimiliki oleh dunia pendidikan yang lainnya. Pendidikan di pesantren tidak hanya bersifat teoritis tetapi juga aplikatif di mana santri tidak hanya diajarkan pelajaran saja tetapi bagaimana mempraktikkan pengetahuan yang telah diajarkan dalam kehidupan sehari-hari di pesantren mulai dari menjaga kebersihan, membagi waktu, menjaga tata karma dengan baik hubungan antara santri senior dan santri junior, hubungan santri dengan ustad atau gurunya, hubungan santri dengan pengasuh, hubungan santri dengan masyarakat sekitar. Pendidikan dipesantren lebih komplek dari pada pendidikan biasa. Dengan perkembangan sains dan teknologi yang maju dengan pesat.

Pesantren tidak menutup diri dengan perkembangan jaman, hal ini terbukti dengan banyaknya pesantren-pesantren yang memiliki pendidikan yang berbasis iptek bahkan banyak pesantren yang memiliki lembaga pendidikan formal. Namun begitu roh kepesantrenanannya sebagai lembaga pendidikan agama Islam tetap berjalan dan tidak mengalami degedrasi akibat arus informasi dan teknologi yang maju dengan pesat. Justru informasi dan teknologi ini dimasukkan ke dalam kurikulum pesantren dengan tujuan agar santri nantinya tidak ketinggalan perkembangan sains dan teknologi modern.

Metode Pendidikan Pondok Pesantren

Sebagai lembaga pendidikan yang memiliki ciri khas tersendiri. Pendidikan pondok pesanteren dilakukan dengan dua metode yaitu pertama, bersifat satu arah atau yang dikenal dengan metode bondongan dan kedua metode dua arah yang dikenal dengan sorokan. Metode sorokan biasanya diselenggarakan pada waktu tertentu. Dalam sistem sorongan ini santri berkumpul ditempat pengajian dengan kitab yang akan dikajinya dan berhadapan dengan kyai atau ustad yang memacakan teks dalam kitab tersebut. Santri selain mendengarkan juga melakukan pencatatan atas : pertama, pemberian kharakat terhadap teks yang berbahasa Arab yang sering disebut pendhabitan meliputi semua hrurf yang ada dengan bahasa Indonesia atau bahasa daerah disetiap kata dengan menggunakan huruf Arab pegon. Santri kemudian menirukan apa yang dibacakan oleh kyai atau ustad. Selanjutnya kyai atau ustad mendengarkan dengan tekun apa yang dibaca santri sambil melakukan koreksi-koreksi seperlunya. Tidak jarang kyai memberikan tambahan penjelaan agar apa yang dibaca oleh santri dapat dipahami.


Kedua, metode bandongan atau watonan. Metode ini dilakukan oleh seorang kyai atau ustad terhadap sekelompok santri untuk mendengarkan atau menyimak apa yang telah dibacakan oleh kyai atau ustad dari sebuah kitab. Kyai membaca menerjemah, menerangkan dan sekaligus mengulas teks-teks dari kitab-kitab yang berbahasa Arab tanpa kharakat (gundul). Santri dengang memegang kitab masing-masing melakukan pendhabitan harakat kata, langsung dibawah kata yang dimaksud agar dapat membantu memahami isi teks.

Sedangkan menurut Sultan Masyhud, sejak awal pesantren memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Tingkatan yang paling sederhana adalah pesantren yang mengajarkan cara membaca huruf Arab dan al Qur’an. Sedangkan pesantren yang agak tinggi adalah pesantren yang mengajarakan berbagai kitab fikih, ilmu akidah, kadang-kadang amalan sufi, disamping tata bahasa Arab (Nahwu dan Sharf).

Cara pengajarannya unik. Sang Kyai yang biasanya adalah pendiri sekaligus pemilik pesantren, membacakan manuskrip-manuskrip keagamaan klasik berbahasa Arab yang dikenal dengan sebutan kitab kuning. Sementara para santri mendengarkan sambil memberi catatan pada kitab yang dibaca. Metode ini disebut dengan metode bandongan. Selain itu, para santri juga ditugaskan membaca kitab, sementara kyai atau ustad menyimak sambil mengoreksi dan mengevaluasi bacaa dan performance seorang santri. Metode ini dikenal dengan metode sorogan.

Pembelajaran dengan menggunakan metode sorokan maupun bandongan dilakukan tanpa kelasi. Kedua metode ini biasanya dilakukan di Musholla atau masjid atau di rumah kyai itu sendiri. Namun begitu pembelajaran baik metode sorokan ataupun bandongan biasanya dipilah berdasarkan usia dan kemampuan dari santri itu sendiri yang dilakukan secara bertingkat dalam kelompok-kelompok belajar. Pesantren dengan segala keunikannya, merupakan lembaga pendidikan yang terus dipertahankan karena disamping memberikan pelajaran intelektual tetapi sekaligus pendidikan yang bersifat spiritual dan emosional. Dengan kata lain pendidikan dipesantren lebih bersifat komplek dimana santri tidak hanya dituntut untuk mempelajari pelajaran yang telah ditentukan tetapi juga santri dituntut dan dibiasakan untuk belajar bersikap, berinteraksi dan bertata krama yang yang baik dengan siapa saja.
Permasalahan seputar pengembangan model pendidikan pondok pesantren dalam hubungannya dengan peningkatan kualitas sumberdaya manusia, merupakan isu actual dalam arus perbincangan kepesantrenan kontemporer.

Pesantren dianggap kurang mampu mengoptimalisasi potensi yang dimilikinya. Setidaknya ada dua pontensi yang dimiliki oleh pesantren yaitu potensi pendidikan dan pengembangan masyarakat. Dalam bidang pendidikan, khususnya, pesantren dapat dikatakan kalah bersaing dalam menawarkan suatu model pendidikan kompetitif yang mampu melahirkan out put santri yang memiliki kompetensi dalam pengasaan ilmu sekaligus skill sehingga dapat menjadi bekal terjun ke dalam kehidupan sosial yang terus mengalami percepan perubahan akibat modernisasi yang ditopang kecanggihan sains dan teknologi.

Kegagalan pendidikan pesantren dalam melahirkan sumberdaya santri yang memiliki kecapan dalam bidang ilmu agama dan penguasaan teknologi secara sinergi berimplikasi kepada kemacetan potensi pesantren sebagai salah satu agen perubahan sosial. Terkait dengan problematikan pendidikan pesantren dengan interaksinya dengan perubahan sosial sebagai akibat modernisasi dan globalisasi, kalangan internal pesantren sebenarnya sudah mulai melakukan pembenahan salah satunya dengan pengembangan pendidikan formal mulai dari tingkat SD/MI sampai dengan perguruan tinggi di lingkungan pesantren dengan menawarkan perpaduan kurikulum keagamaan dan umum yang sistematis dan integratif.
Namun begitu pendidikan di pesantren tidaklah sama dengan pendidikan di formal.

Membicarakan lembaga pendidikan formal, maka yang terbayang adalah gedung yang representatip disamping kurikulum. Bisa dikatakan gedung merupakan tolak ukur bagi siswa atau wali siswa untuk menyekolahkan anaknya. Dengan gedung yang presentatif maka dapat dipastikan bahwa kualitas sekolah tersebut adalah bagus dan memenuhi standar akriditasi yang diharapkan serta pelayanannya juga bagus. Hal ini wajar, mengingat bahwa setiap wali murid tidak hanya mengharapkan anak menguasai berbagai disiplin pengetahuan tatapi juga menguasai ketrampilan dan pengalaman yang dapat menunjang dirinya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi Dengan gedung yang presentatif, secara otomatis sarana dan prasarana yang menunjang pendidikan terpenuhi seperti ruang kelas sesuai dengan jumlah siswa, perpustakaan yang baik dan layak, laboratorium computer, kantin, ruang terbuka dll. Sehingga siswa merasa nyaman untuk menerima pelajaran yang disampaikan oleh guru-gurunya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam proses pendidikan, bahwa kualitas pendidikan tersebut juga di dukung dengan sarana dan prasarana yang menjadi standar sekolah atau instansi pendidikan yang terkait. Sarana dan prasarana sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam belajar. Hal ini menunjukkan bahwa peranan sarana dan prasarana sangat penting dalam menunjang kualitas belajar siswa.

Misalnya saja sekolah yang berada di kota yang sudah memiliki faslitas laboratorium komputer, maka anak didiknya secara langsung dapat belajar komputer sedangkan sekolah yang berada di desa  tidak memiliki fasilitas itu dan tidak tahu bagaimana cara menggunakan komputer kecuali mereka mengambil kursus di luar sekolah. Pendidikan adalah kebutuhan setiap manusia. Karena hanya dengan pendidikanlah manusia mengenal Tuhannya, dirinya dan alam lingkungan sekitarnya dan tahu bagaimana cara berhubungan baik dengannya. Pendidikan dalam praktiknya dilaksanakan melalui proses kegiatan belajar mengajar dan melibatkan empat pihak yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung.

Pertama, pihak yang berusaha melaksanakan kegiatan pendidikan (belajar-mengajar). Kedua, pihak yang berusaha belajar. Ketiga, pihak yang merupakan sumber belajar. Keempat, pihak yang berkepentingan atas hasil (out come) proses belajar mengajar
Tujuan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pengertian tujuan pendidikan sebenarnya terlingkup dalam pengertian pendidikan sebagai usaha secara sadar. Ada usaha yang terhenti karena mengalami kegagalan sebelum mencapai tujuan pendidikan sebagai usaha sadar.

Kemudian dalam setiap usaha pencapaian tujuan pendidikan, sebagaimana yang disampaikan oleh Brubacher, mencakup tiga fungsi yang penting dan bersifat normative yaitu: 1) Tujuan pendidikan memberikan arah pada proses yang bersifat edukatif. 2) Tujuan pendidikan tidak selalu member arah pada pendidikan tetapi harus mendorong atau memberikan motivasi yang baik. 3) Tujuan pendidikan mempunyai fungsi untuk memberikan pedoman atau menyediakan kriteria-kriteria dalam menilai proses pendidikan. Sementara pesantren dengan segala keterbatasannya terutama dalam masalah sarana dan prasarana telah memunculkan ide-ide kreatif dari para pendirinya bahwa keterbatasan sarana dan prasarana bukan menjadi faktor utama bagi santri untuk tidak maju tetapi justru menjadi sebagai motivasi untuk meraih prestasi yang gemilang. Pembelajaran tanpa kelas atau tanpa sekat walau bukan hal baru karena sejak dulu sudah ada. Tetapi pembelajan tanpa kelas sekarang lebih dimonifikasi dengan jumlah kelompok yang terbatas. Di mana setiap kelompok ada satu ustadz yang mengajar sesuai dengan tingkat dan materinya.

Class Without Wall

Pembelajaran biasanya diletakkan di aula atau di mushollah atau di teras kamar-kamar santri. Pembelajaran dengan model tanpa sekat ini memberikan manfaat antara lain: (1) Pembelajaran berbasis kemampuan dan kecepatan belajar santri, bersifat timeless orientaion, anak menyelesaikan tugas belajarnya sesuai dengan pencapaian kompetensi yang diharapkan, (2) Pembelajaran berbasis rombel, satu guru maksimal 15 santri. Rombel dibentuk berbasis kesamaan kemampuan dan kecepatan belajar anak, (3) Pembelajaran berbasis hubungan kasih sayang guru dan santri, (4) Dilaksanakan dengan tulus dari hati guru ke hati santri, (5) Dilaksanakan dengan sepenuh hati, dengan cara yang hati-hati, (6) Pembelajaran berbasis akhlaqul kharimah, (7) Lebih mengutamakan mengasah hati daripada mengasah otak, berlandaskan kejujuran dan etika moral sesuai ajaran agama Islam. Dan yang lebih menarik bahwa pembelajaran tanpat sekat sebagai mana di pesantren, telah menginspirasi tokoh-tokoh masyarakat di desa Tanggung Kecamatan Turen Kabupaten Malang.[]

*Adalah kandidat guru besar IAI Al-Qolam Malang dalam bidang menejemen pendidikan islam.

Pos terkait